Senin, 09 Maret 2009

Kharista (1)


“Kukuruyuk..”begitulah, ayam telah berkokok di pagi hari. Akupun juga sudah terjaga sejak tadi. Pagi sekali aku bangun untuk belajar dan memulai hariku. Aku membuka lembaran demi lembaran buku pelajaran hari ini. Aku bukan malas belajar sehingga mengerjakan pekerjaan rumah pagi-pagi. Tapi karena, aku sudah terbiasa belajar di pagi hari. Ibuku selalu mengajarkan aku seperti itu. Jadi, setiap hari aku terbiasa bangun pagi. Lagipula, bangun pagi-pagi membuat badan sehat dan segar.

Ketika waktu menunjukkan pukul 04.30, aku bersegera mengambil jatah koran hari ini untukku antarkan kepada para pelanggan koran. Aku sengaja datang pagi-pagi karena apabila aku datang lebih lama, pekerjaaanku tidak akan selesai dan aku akn terlambat pergi ke sekolah. Rumah para pelanggan koran dengan segera telah terisi dengan koran hari ini. Dan, pekerjaanku sebagai loper koran selesai. Aku tersenyum puas.

Pukul 06.15 aku bergegas mengganti baju dengan seragam putih biru. Sarapan, lalu pergi ke sekolah yang letaknya tak begitu jauh dari rumahku. Begitulah. caraku memulai hariku. Kelihatannya menyiksa ya? Tapi, bagiku itu sangatlah menyenangkan. Karena dengan hari yang berawal seperti itu, mempunyai kenikmatan tersendiri.

Bel masuk bebunyi, aku berlari menuju pintu gerbang sekolahku, yaitu SMPN 42 yang hampir tertutup. “Hosh.. hosh.. aku selamat! Hampir saja..” tiba-tiba terlihat Pak Dedy, guru pelajaran Kewarganegaraanku sudah menunggu di tangga. Pak Dedy itu guru yang mewajibkan siswanya prefect. Baju harus rapi, dimasukkan. Harus memakai dasi dan gesper, tidak boleh mengobrol pada saat pelajaran, harus kompak, tidak boleh terlambat, harus ramah pada semua orang, harus saling menyapa, dan bla bla bla semua aturan yang kurasa mendekati kata gila.

“Oh No!! aku belum selamat.. aku harus tenang, jangan gegabah dan fikirkan bagaimana cara aku lolos dari guru galak ini.” Aku menenangkan diriku. Aku lalu menenteng tas ditangan, berjalan dengan santainya bahkan saat melewati Pak Dedy.

“Hei, kamu! Dari mana saja kamu? Kenapa kamu membawa tas segala? Kamu terlambat ya?” ujar Pak Dedy sedikit membentak.

Aku yang berusaha tenang padahal amat panikpun menjawab “Hh.. ini Pak, tadi waktu saya kebawah mau membeli karton di koperasi, ada teman saya baru datang. Terus, dia titip tas sama saya. Terus, dia itu orangnya sangat pelupa. Saya disuruh tunggu disamping wc. Dan dia lupa kalau saya masih menunggu dia. Saya tunggu, sampai bel. Eh ternyata dia sudah ke atas. Saya ditinggal pak! Dan, tadi saya baru saja ke koperasi mau beli karton, eh ternyata kartonnya tidak ada. Jadilah saya seperti ini. Mohon maklum ya pak…. Saya ke atas dulu Pak!” ucapku panjang lebar lalu bergegas lari dan naik ke atas sambil tersenyum lega dan membiarkan Pak Dedy melongo sendirian di bawah mendengarkan ucapanku yang seratus persen bohong. Ya, karena terpaksa. Maafkan aku Ya Allah..

Lewat dari cengkraman Pak Dedy, aku berjalan menuju kelasku, kelas IX A. Kelas paling pojok yang hampir semua tertutup oleh rimbunnya dedaunan pohon samping kelasku. Di kelas belum ada guru. Karena sekarang adalah pelajaran Bu Ratna. Ia adalah guru yang paling sering terlambat dengan berbagai alasan. Mungkin, semua alasan terlambat telah lengkap diucapkannya.

Dengan santai aku melangkah, dan aku duduk ditempatku. Teman-temanku segera menuju mejaku “Kharis, pinjam PR Fisika donk!!!” pinta Delila

“Gue juga pinjam donk! Lupa nie… he..he…” ucap Denia juga meminta.

“Ayolah, pinjam!” begitu pula yang dikatakan pada ketiga temanku yang lain.

“Iya.. iya.. tapi, ada syaratnya. Jangan lecek, jangan sobek, jangan ada sedikitpun coretan, jangan diubah-ubah, jangan dipinjemin ke yang lain, jangan….”

“Udah.. udah.. capek deh banyak banget syaratnya! Lagipula buku kamu nggak gue apa-apain kok! Tenang aja kali, friend!” ujar Denia mulai bosan mendengarkan syaratku.

“Oke.. tapi jangan semuanya dicontek loh.. aku capek ngerjainnya.”

“Lanjut…”

40 menit kemudian Bu Ratna masuk kelasku. 20 menit setelah itu, bel pergantian mata pelajaran berbunyi. Jadilah aku belajar Geografi hanya 20 menit. Hwa..hwa... Pak Kelvin masuk, pelajaran fisika akan segera dimulai. Teman-temanku grasak-grusuk karena lupa mengerjakan PR. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temanku. Aku saja yang punya tugas mengantar koran sudah mengerjakan PR. Ckk ckk..

Bel istirahat berbunyi. Teman sekelasku semuanya keluar kelas. Kini, hanya aku yang ada di dalam kelas. Aku masih sibuk menyelesaikan puisiku yang tadi malam belum terselesaikan karena ketiduran.

“Yeah! Akhirnya puisiku selesai juga.!!!!!” Aku berteriak gembira.

Aku lalu membaca ulang puisiku yang berjudul “AKU BAHAGIA” dengan suara lantang, dengan penuh penghayatan juga ekspresi yang sesuai tentunya.

“Bahagiaku disini

Bernaung dalam indahnya pagi

Walau aku harus mengerti

Makan apa aku hari ini?

Disela seluk buluk

Ibu kota yang kumuh tiada kara

Aku berjuang untuk bertahan hidup

Bertarung melawan berjuta manusia

Yang bertujuan sama

Disinilah tempatnya

Inilah waktunya

Aku akan merenggut

Semua kebahagiaan dunia

Untuk selalu bersemi

Di hatiku

Juga saudara-saudaraku”

“Plok.. plok.. plok..” suara tepuk tangan terdengar sedikit demi sedikit di telingaku. Pujianpun mengalir dari teman-temanku. Tak sadar, kini disekitarku sudah ada sekitar 10 orang memperhatikan puisi yang aku bacakan. Mukaku memerah. Jadi malu,…

“Keren Ris! Buatin aku puisi donk…” Vera teman sebangkuku memuji.

“Iya Ris, kamu jago banget baca sama nulis puisi.” Puji Delila.

“Cakep.. cakep.. cakep banget!” Seru Janna.

Aku hanya tersenyum simpul. Kok bisa ya, aku tak sadar bahwa sudah dikelilingi banyak orang. Huh, malu deh aku! Tapi yang penting puisiku dipuji. He.. he... aku mulai GR sendiri. Dasar…

Bel masuk berbunyi, Bu Venna masuk kelas. Aku mulai belajar matematika. Dan dilanjutkan pelajaran Bibmbingan Konseling. Lalu, pulang. Bye sekolah! Sampai bertemu besok.

Aku bejalan menuju tampat dimana biasanya aku berlindung, istirahat dan tiggal. Yaitu disebuah rumah mungil yang didalamnya aku tinggal bersama Kak Fandy dan Kak Fathia. Juga tiga adik kecilku yang lucu. Ayu kelas lima SD, Tata kelas dua SD dan Fariz yang berumur lima tahun. Mereka masih kecil tapi sudah tidak bersama orang tuanya. Orang tua mereka sudah tidak ada. Kasihan sekali.

Tata dan Fariz adalah kakak adik. Dahulu, aku tinggal bersama orang tua mereka. Yang tak lain adalah paman dan bibiku sendiri. Tapi, disaat umurku 11 tahun, paman mengalami kecelakaan dan meninggal tragis dengan badan penuh darah. Sedih bila teringat kejadian itu. Mengapa paman harus meninggal seperti itu? Sementara itu, dua bulan setelah kejadian itu bibi ikut menyusul paman. Aku semakin sedih. Belum lagi sepupuku masih kecil-kecil.

Aku akhirnya tinggal bertiga bersama Tata dan Fariz. Setiap hari aku selalu memeluk mereka erat. Aku takut apabila terjadi apap-apa pada mereka. Aku sudah berjanji pada bibi untuk menjaga Tata dan Fariz. Walau hanya bermodal uang yang ibuku kirimkan setiap bulan, aku menjaga mereka.

Hingga suatu hari, aku bertemu Ayu yang terlihat sedang kebingungan. Aku mengajaknya ke rumah mungilku. Ia lalu menceritakan apa yan ia alami. Ibunya meninggal, ayah Ayu stress. Hingga ia sering mabuk-mabukan dan bersikap kasar. Dan pada suatu hari ayahnya mengusir Ayu dari rumah. Ayu yang saat itu masih berumur enam tahun menangis sendirian. Aku kasihan. Akupun mengajaknya tinggal bersama.

Aku telah sampai di rumah mungil itu pukul 13.20. Disana Kak Fathia sudah menunggu dengan masakannya yang harumnya menyebar ke seluruh ruangan. Ayu, Tata dan Fariz juga menungguku. Tapi sekarang mereka sudah tertidur pulas setelah menyantap masakannya Kak Fathia yang dijamin super duper enak.

“Aku pulang!” seruku.

“Eh, Kharis. Ayo masuk!” ajak Kak Fathia ramah.

“Iya Kak!”

“Nie, Kakak udah buat sayur bayam dan ayam goreng.”

“Cobain ya Kak!” kataku sambil menyobek salah satu bagian ayam yang ada di atas meja.

“Ganti baju dulu, cuci muka, wudhu, sholat baru makan. Lihat! Sudah jam berapa?”

“Jam setengah dua Kak! He..he.. tapi masakannya enak banget Kak!”

“Alhamdulillah.. tapi sholat dulu. Jangan merayu kakak ya!”

“He.. he.. ketahuan ya..”

Akupun mengganti seragamku dengan kaus berlengan panjang yang warnanya merah muda, bergambar beruang lucu. Aku juga memilih celana putih panjang yang aku bilang serasi dengan bajunya. Juga kerudung merah hati untuk nanti aku berjaga di warung Nek Mariyem. Setelah ganti baju dan cuci muka, aku sholat zuhur lalu menyantap masakan Kak Fathia. Mmm.. enak sekali. Kapan ya aku bisa masak makanan enak seperti ini?

Jam dinding menunjukkan pukul 14.00, itu artinya aku harus membantu Nek Mariyem, tetangga sebelah menjaga warung. Ia hanya tinggal sendiri, bila siang Nek Mariyem beristirahat. Dan aku yang menggantikannya.

Sebelum berangkat ke warung Nek Mariyem aku menyiapkan beberapa lembar kertas HVS, alat tulis, dan amplop. Hari ini ibuku berulang tahun, aku berencana mengirimkan surat kepadanya.

Ibuku bekerja sebagai TKI di Malaysia untuk menghidupi aku. Sejak ayah pergi, ibuku pontang-panting mencari uang. Berjualan apa saja, yang untungnya tak seberapa. Hingga akhirnya ada seorang kawan ibuku yang menwarkan menjadi TKI. Awalnya ibu tidak mau. Tapi karena sangat terdesak, akhirnya ibu berangkat ke Malaysia dan aku dititipkan kepada paman dan bibi. Kini, sudah enam tahun ibu bekerja disana. Walau terpisah jauh, batin aku dan ibuku masih tetap satu.

Tok.. tok.. aku mengetuk pintu warung Nek Mariyem. “Nek.. Nek.. Nenek! Aku Kharis Nek!”

“Eh, Kharis, ayo masuk! Dari tadi nenek tunggu.”

“Maaf Nek! Maaf ya..”

“Iya engga papa kok. Kamu tolong jaga ya! Nenek mau istirahat dulu. Nanti sore Nenek kesini lagi.” Ujar Nek Mariyem.

“Oke Nek! Selama ada Kharista aman deh. He.. he..”

Nek Mariyem pergi meninggalakanku. Aku mulai menulis surat untuk Ibu.

Kepada: Jakarta, 14 Februari 2007

Ibuku tersayang

Di tempat

Assalamualaikum wr.wb

Halo bu! Gimana kabarnya? Aku disini baik-baik saja. Sama Ayu, Tata, Fariz. Mereka lucu-lucu, walau terkadang menyebalkan. Kak Fathia juga, dia baik banget. Setiap hari buatin makanan yang enak seperti masakan ibu. Kak Fathia sekarang sudah kelas III SMA, tapi enak Bu, masa pulangnya jam 12.00, tapi Kak Fathia langsung masak, jadi begitu aku pulang sudah ada makanan. Terus Kak Fandy, yang sekarang kuliah sambil kerja. Aku biasanya dapat uang saku tambahan dari Kak Fandy. He.. he..

Alhamdulillah ya Bu, aku tinggal sama orang yang baik-baik sama aku. Kalau ibu gimana? Aku kangen sama ibu. Kapan ibu ke Jakarta lagi? Sudah dua tahun ngga ketemu ibu, rasanya ngga enak. Adanya jadi kangen.. terus.

Tidak terasa ya Bu, sekarang aku sudah besar. Umur aku sekarang 14 tahun, kelas III SMP, sebentar lagi SMU. Dari kecil ibu merawat aku. Makasih ya Bu. Ibu baik banget sie.. aku sayang sama Ibu. Ibu juga sayang sama aku kan? Oh iya Bu, aku punya sedikit puisi buat Ibu. Tapi maaf ya, kalau jelek.

Dulu, kau selalu tersenyum bak permata

Kata-katamu bagai mutiara

Selalu hiasi hariku

Semerbak rasa harum sunyi ciptakan

Hari yang terasa amat bersemayam dalam hati

Kini, engkau tak lagi dalam dekapanku

Engkau berjuang demi aku

Demi masa depanku

Malu rasanya melihat sifatku dulu

Begitu jahatnya aku kepadamu

Maafkan perbuatanku

Raga kita memang terpisah jauh

Walau begitu,

Aku akan selalu

Menyimpan engkau dalam-dalam

Seperti puisi cinta rahasisa

Hingga tak akan ada yang menemukannya

Maaf ya Bu, aku Cuma bisa kasih hadiah ini di hari ulang tahun ibu yang jatuh hari ini, tanggal 14 Februari. Padahal kalau aku punya uang yang banyak, aku pengen kasih ibu sesuatu yang lebih berarti, seperti cincin, kalung, atau apalah yang lebih berarti. Tapi, uang tabunganku belum cukup. Aku juga masih membutuhkan modal untuk usaha menulisku. Beberapa hari yang lalu aku sibuk, banyak tugas yang harus selesai. Jadi belum sempat nulis surat. Aku engga tahu surat ini kapan sampainya. Tapi aku lega sudah bisa menulis surat untuk ibu.. ibu, aku berjanji ngga bakal nyakitin ibu lagi seperti dulu..

Ibu, tahu ngga? Aku sekarang suadah mulai banyak menulis puisi loh..minggu lalu aku puisiku sudah ada di majalah. Aku seneng deh.. ternyata menulis itu mengasyikkan. Seperti kata ibu dulu “Kharis, kamu harus banyak-banyak membaca dan menulis. Itu akan bermanfaat untukmu kelak.” Sekarang aku lagi kirim puisi lagi. Doa’in ya bu, biar bisa masuk lagi.

Kayaknya sudah banyak ya, yang sudah aku tulis dalam surat ini. Sampai-sampai aku ngga sadar kalau sudah jam setengah empat. Sekarang aku mau sholat ashar dulu. Da.. da.. ibu! Aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh biar bisa masuk SMU favorit dan biar usaha ibu selama ini ngga sia-sia. Aku juga akan melanjutkan cita-cita ibu yang tertunda. Aku ingin jadi dokter. Dokter sholeha, yang juga pandai menulis tentunya. Bu, kalau sempat dibalas ya!

Wassalamualaikum.wr.wb

Anakmu,

Ananda Kharista Maulida Azzahra

`Salam manis selalu untuk ibu`

Usai menulis surat, aku minta izin Nek Mariyem untuk shalat Ashar. Sementara itu Nek Mariyem yang menjaga warung. Akupun sholat, memohon kepada Allah agar aku dapat menjalani kehidupan ini dengan ceria dan bersemangat, juga kebahagiaan ahirat tentunya, dan agar ibu bisa cepat-cepat kembali ke Jakarta tanpa harus kembali bekerja di tempat yang jauh. Aku kembali ke warung Nek Mariyem dengan bawaan yang berbeda, buku pelajaran. Selain itu, aku juga mengajak Tata untuk menemani sekaligus membantu aku.

“Dek, beli telurnya dong, satu kilo ya.” Ujar seorang ibu setengah baya.

“Oh, iya Bu.” Aku menimbang telur lalu memberikannya pada ibu tersebut. Ibu itu juga memberikan satu lembar uang dua puluh ribuan, dan aku menerimanya lalu memberikan uang kembalian sambil berkata “Terimakasih Bu.”

“Sama-sama Dek.”

Lalu datang lagi seorang anak yang kira-kira seusiaku. Tingginya sekitar 160 sentimeter. Rambutnya ikal panjang sepunggung dikepang pinggir kanan, berwarna hitam pekat, poninya rapi. Memakai kaus berlengan pendek yang warnanya hijau merah belang-belang. Dan memakai rok hitam selutut. Cantik sekali, bibirnya manis, matanya bersinar indah, bulu matanya tebal dan lentik. Pipinya putih merah merona. Aku terpesona. Ha.. ha…

Ia bekata sambil melihat daftar catatannya “Saya mau beli mie instant 10 bungkus, minyak goreng dua liter, terigu satu setengah kilo, telur dua kilo, beras lima liter, garam dua bungus, penyedap rasa sepuluh bungus, kecap satu botol, saos tomat dan saos sambal satu botol, biscuit 3 buah, kacang atom 2 bungkus, dan susu kental manis coklat satu kaleng.”

Aku dibantu Tata mengambilkan barang yang diminta anak itu.

“Ini barangnya, semuanya jadi Rp.86.500,00.”

“Oh, terimakasih.”

“Banyak sekali belanjaannya.”

“Iya, saya baru pindah. Jadi baru mau beli kebutuhan sehari-hari.”

“Ngomong-ngomog, rumahnya dimana?”

“Oh, dekat kok dari sini. Tinggal lurus, belok kanan. Yang pagarnya warna putih, itu rumah saya.”

“Disitu? Dekat dong sama rumah aku! Aku beda tiga rumah sama rumah kamu. Kalau rumah aku yang pagarnya coklat.”

“Oh iya, nama aku Zena!” tukasnya memperkenalkan diri.

“Aku Kharista panggil aja Kharis.” Kami berdua lalu saling berjabat tangan.

“Kelas berapa?” tanyanya.

“Tiga SMP. Di SMPN 42. kamu?”

“Wah, kebetulan! Aku juga mau masuk SMP itu. Aku juga kelas tiga..”

“Sayang banget. Padahal tinggal setengah semester kurang lho…” ujarku menyayangkan sekolahnya yang hanya beberapa bulan lagi.

“Iya, mau gimana lagi? Memang sudah harus pindah. Sudah dulu ya! Kayaknya aku ditunggu deh sama Mama. Da…” ucapnya lalu pergi seraya melambaikan tangan.

“Da…”

Teman baru, aku punya teman lagi. Aku jadi ingin membuat puisi tentang teman baru.

Aku punya teman baru

Kini temanku bertambah lagi

Aku bahagia punya banyak teman

Karena aku ingin punya banyak cerita

Untuk merajut harapan baru

Bersama kawanku selalu

Selesai menulis puisi, temanku Riana datang “Ris, aku mau beli obat pusing dong! Kakakku sakit, disurh beli obat deh..”

“Nie, obatnya.” Aku mengambilkan obat pusing untuknya.

“Thanks Ris, ini uangnya! Bye..” kilahnya sambil melangkah pergi

.

Tiba-tiba, Tata mengangis. Ia merengek minta makanan ia lapar. Karena disini tidak ada nasi, Tata akhirnya pulang sambil memegangi perut buncitnya yang kini lapar. Dalam hati aku berkata “Ck.. ckk Tata.. Tata, dasar gendut.”

Aku teringat ada PR Sosiologi yang belum aku kerjakan. 50 soal lagi! Harus cepat-cepat dikerjakan nih.. kalau tidak, PRnya tidak akan selesai dan besok akan jadi hari terkacau.

“Huh, akhirnya selesai juga! Untung saja soalnya ngga terlalu susah.” Aku lalu melirik jam dinding. Sudah pukul 18.10, aku harus pulang dan sholat maghrib dahulu. Akupun pamit kepada Nek Mariyem untuk segera pulang. Nek Mariyem masih berada didalam rumah dan baru saja selesai sholat. Jadi aku tidak mengganggunya.

“Kak Kharis, sholat yuk..” ajak Ayu ketika aku baru sampai dirumah.

“Iya.. makasih ya ditungguin sholatnya.”

“Ngga masalah!” ujar Ayu.

Aku lalu sholat dengan khusu’, setelah itu membaca Al-Qur’an dan mengulang hafalan. Alhamdulillah sekarang aku sudah hafal Juz Amma dan Juz 29. Biasanya aku menghafal dipagi hari. Selesai, aku mandi sore yang waktunya dimalam hari. Membersihkan kotoran-kotoran yang menempel dari pagi tadi.

“Huh, segar sekali!” ucapku setelah mandi.

“Kharis, makan yuk!” ajak Kak Fandy.

“Oke kak!”

“Enak lho…” kata Tata sambil menunjukkan piringnya yang berisi nasi, sayur sop bakso dan telur dadar yang juga buatan Kak Fathia.

“Tadi ngga langsung makan Ta?” ujarku meledek Tata.

“Tadi belum matang. Terpaksa nunggu deh.”

“Kasian deh…”

Kak Fathia memang jago masak, mewarisi bakat ibunya yang masih ada hubungan keluarga dengan ayahku. Jadi tantenya Kak Fathia punya ibu, ibunya punya sepupu, sepupunya punya kakak ipar, kakak iparnya punya cucu, nah cucunya itu sepupunya itu kakak dari kakak iparnya adik ayahku. Masih ada hubungan keluarga kan? Keluarga ayahku dengan keluarga Kak Fathia cukup dekat. Jadilah aku dan Kak Fathia saling kenal.

Kalau Kak Fandy itu adalah Kakak angkat Kak Fathia. Ia dan Kak Fathia disuruh sekolah di Jakarta karena sekolahnya di daerah pedalaman Banten itu kurang dari baik. Kebetulan, waktu itu aku sedang bersilaturahmi ke rumah Kakek dari ayah dan disana ada Kak Fathia dan Kak Fandy.

Kak Fathia bersekolah di SMU 22, dan Kak Fandy kuliah di Universitas JOEANG jurusan Tekhnik Arsitektur dan bekerja di Kantor ibunya temanku. Biasanya Kak Fandy pulang sore menjelang malam.

Walau biasanya Kak Fathia hanya masak makanan sederhana, tapi kesannya kalau sudah makan, ada rasa gimana gitu dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Yang pasti enak deh. Yang bisa bilang ini hanya yang pernah makan masakan Kak Fathia loh..

Pukul 20.10, aku sholat Isya dan menulis diary.

Rabu, 14 Februari 2007

Dear diary,

Tadi aku menyelesaikan puisiku yang berjudul Aku Bahagia, terus aku baca dengan penuh penghayatan. Saat mulai membaca puisi, di kelas tidak ada orang, tapi tanpa sadar, tiba-tiba teman-temanku sudah mengerubungi aku. Jadi malu deh! Oh, iya, hari ini ibu ulang tahun loh.. aku buat surat dan sedikit puisi. Rencananya besok mau aku titip Kak Fandy ke kantor pos. coba nomor telepon ibu ngga hilang, aku bakal mengucapkan selamat ulang tahun yang meriah. Aku janji ngga bakal nyakitin ibu lagi seperti dulu.. Eh, tadi ada tetangga baru loh! Namanya Zena. Dah dulu ya, diary aku ngantuk. Besok harus bangun pagi-pagi untuk mengantar koran. Bye…

Aku sudah sangat mengantuk, aku menyingkirkan diary dan langsung berangkat menuju pulau kapuk alias kasur.

Bersambung......

Ø DUA

Seperti biasa, aku bangun pagi, belajar, menghafal, sholat tahajjud dan menyelesaikan tugasku mengantar koran. Ketika aku bersiap-siap berangakat pintu diketuk “Tok.. tok..” lalu Ayu membuka pintu.

“Ini ada sedikit makanan dari mama.” Ujar seorang anak.

Aku penasaran dan mengintip kea rah pintu. Terlihat, anak yang kemarin berbelanja di warung Nek Mariyem ‘Zena’, itu namanya kan? Nanti, insya Allah sepulang sekolah aku akan bermain ke rumahnya ah..

Sebelum berangkat, aku menitipkan surat untuk ibu kepada Kak Fandy untuk diantar ke kantor pos. Semoga surat itu sampai kepada ibu di Malaysia secepatnya, aku tak sabar menunggu jawaban suratku.

Hari ini aku sengaja pulang cepat. Tak ada bercanda-bercanda, tak ada jajan dahulu, tak ada jalan lama-lama semuanya harus serba cepat. Kalau tidak cepat-cepat aku tidak akan jadi ke rumah Zena. Alhasil, pukul 13.00 aku sudah berada didepan pagar rumah Zena.

Berpagar putih, bangunannya tegak, kokoh dan besar, ada dua lantai, warna cat dindingnya sama seperti warna cat pintu dan kusen jendela yang berwarna peach. Indah sekali. Apalagi dihalamannya yang luas terdapat pohon-pohon tua yang membuat rumah itu terlihat asri. Aku jarang memperhatikan rumah itu karena dari depan hanya terlihat pagar tinggi berwaran putih. Terakhir aku melihatnya, aku melihat rumah itu sedang direnovasi, kira-kira dua bulan yang lalu.

Aku menekan bel rumah Zena. Dan Zena yang membukakan pintu untukku.

“Hai Zena! Aku Kharis yang kemarin jaga warung itu loh.. masih ingat kan?” ujarku ketika Zena membuka pintu.

“Eh iya! Kharis ya? Aku masih ingat.. ayo masuk.” Aku dipersilahkan memasuki rumahnya dan duduk di sofa yang terletak di ruang tamunya yang luas dan bangunannya indah sekali.

“Terimakasih! Ngomong-ngomong, dulu kamu tinggal dimana?”

“Aku dari Surabaya. Aku pindah ke Jakarta karena rumahku yang dulu terkena gusuran. Padahal, papaku punya surat-surat yang lengkap. Tapi ngga tau kenapa, rumahku tetap kena gusur. Sebenarnya papaku juga akan dimutasikan ke Jakarta. Jadi, papaku sudah mempersiapkan rumah. Ini rumah temannya papa, yang sudah lama kosong dan katanya baru direnovasi. Papa membelinya dengan harga yang tidak terlalu mahal. Rencananya sih, aku baru akan pindah setelah ujian, tapi keburu kena gusur, jadi terpaksa pindah mendadak.” Jelasnya panjang lebar.

“Oh.. kamu tinggal sama siapa saja?” tanyaku lagi.

“Sama mama, papa, Kak Aisha kelas II SMA, kakak sepupuku Kak Faisal, kelas I SMA, adikku ada dua, Dhea kelas empat dan Shopia yang masih dua tahun. Sekarang semuanya tidak ada. Papa kerja, mama sedang mengurus pendaftaran sekolah aku dan saudara-saudaraku. Saudara-saudaraku lagi jalan-jalan cari baju untuk sekolah. Soalnya seragamnya beda. Kalau kamu?”

“Ibuku kerja jadi TKI di Malaysia. Ayahku sudah tidak ada. Jadi, aku sama Kak Fandy dan Kak Fathia yang masih ada hubungan keluara, ya walaupun keluarga jauh. Adik sepupuku ada dua, Tata dan Fariz, sementara Ayu, ia adikku yang diusir ayahnya. Aku kasihan melihat Ayu dan mengajaknya tinggal bersamaku.” Jelasku.

“Eh, Kharis ini ada surat undangan untuk syukuran rumah baru besok malam. Kalau bisa, diusahakan datang ya!”

“Insya Allah. Ya ampun! Sudah jam dua kurang. Aku belum pulang dari tadi. Aku pamit ya! Kapan-kapan ngobrol-ngobrol lagi ya. Senang bisa kenalan.” Aku pamit kepada Zena.

“Oh, iya. Makasih ya, sudah datang. Kapan-kapan main lagi. Salam untuk kakak dan adikmu. Da..”

“Salam juga untuk keluargamu. Da..” aku lalu pulang ke rumah.

Aku masuk ke rumah. “Assalamualaikum..” “Waalaikumussalam.” Jawab Kak Fathia. Seperti biasa, adik-adikku sekarang telah tertidur lelap setelah makan siang. Dan telah tersedia makanan diatas meja. “Mmmm”

“Kak, tadi aku ke rumah tetangga sebelah, itu loh rumah yang pagarnya putih tinggi. Ia baru pindah, ada anak seusiaku namanya Zena. Ada undangan syukuran untuk kita besok malam.” ujarku.

“Coba sini kakak lihat!” “Ngapain kamu ke rumah tetangga?” Tanya Kak Fathia.

“Kemarin aku kenalan. Dia borong di warung Nek Mariyem. Oh, iya tadi dapat salam dari Zena. Dan, aku sama dia cerita-cerita. Kak, aku mau sholat, cuci tangan,kaki dan muka, wudhu, dan…”

“Iya.. iya.. udah sana!”

“He.. he..” akupun melakukan rutinitas sepulang sekolah lalu pergi ke warung Nek Mariyem.

Ketika azan maghrib menjelang, aku pulang ke rumah, membaca Al-Qur’an serta tilawah dan, mandi sore di waktu malam lalu siap-siap ke syukuran rumah Zena. Aku hanya bersama Kak Fathia dan Fariz. Ayu dan Tata katanya banyak PR, Kak Fandy ada tugas membuat makalah, jadi mereka tidak bisa ikut.

Di rumah Zena kami membacakan ayat kursi serta doa-doa. Lalu makan malam. He.. he.. makan gratis, enak lagi. Tetapi, ketika disana sepertinya Zena sedang repot. Aku diacuhkan deh. Haha.. kasian, deh aku! tadi Aku pulang lumayan malam, sekitar pukul 22.00, aku sangat mengantuk dan terpaksa hari ini tidak menulis diary, besok saja aku tulisnya.

Pagi-pagi aku mengantar Koran dari rumah ke rumah. Baru beberapa rumah aku antarkan Koran, ada tikungan. Sebenarnya sering sih aku lewat jalan tersebut. Tapi tak tahu kenapa aku terjatuh di tikungan tersebut. Lutut dan sikuku terluka. Aw.. sakit! Mungkin tadi aku kurang fokus ketika mengendarai sepedaku. Haha.. ngantuk. Tadi malam kan tidurnya tidak seperti biasanya aku tidur. Sudah tahu mesti bangun pagi.. Kharis.. Kharis..

Ganti baju menjadi seragam. Sarapan nasi goreng buatan Kak Fathia. Lalu berangkat segera ke sekolah agar tak terlambat, walau dengan jalan yang masih terengah-engah akibat luka tadi.

Akhirnya aku sampai ke kelas dengan selamat. Jam tujuh kurang lima menit. Bel berbunyi Pak Raka, guru Seni Budaya masuk ke kelasku dengan membawa seorang anak yang tak lain adalah Zena. Aku yang sudah kenal tertawa cekikikan sendiri. Teman-temanku menatapku bingung. Aku tersenyum tersipu malu.

“Anak-anak, hari ini saya membawa seorang murid baru.” Pak Raka menunjukkan anak baru di kelasku.

“Assalamualaikum. Halo, teman-teman perkenalkan, nama saya Radhina Zena Arthamediovira Olivia Kania. Panggil saja saya Zena. Saya berasal dari SMP Global Mandiri di Surabaya. Rumah saya ada di Jalan Bangau Sejahtera nomor 152.” Katanya memperkenalkan diri dengan suaranya yang lembut. Sepertinya, kalau ku lihat, teman-temanku menyukai Zena. Memang, ia amat manis.

“Zena berasal dari Surabaya. Ia masuk ke kelas kalian dan duduk dipinggir sana.” Pak Raka menunjuk kursi yang berada di depanku. Kebetulan itu tempat Arie yang sekarang dipindahkan kelasnya ke kelas IX C karena di kelasku ia sering membuat masalah. “Ada yang mau bertanya?” lanjut Pak Raka. Semua diam. “Baik, Zena sekarang kamu bisa duduk disana.”

“Terimakasih Pak!” Zena duduk di depanku. Ia lalu berkenalan dengan Shachya teman sebangkunya, juga dengan Veradhina teman sebangkuku. Dan dengan teman-teman yang ada di dekatnya. Terkecuali denganku.

Veradhina yang biasa dipanggil Veradh atau Vera bertanya “Kamu udah kenal sama Zena?”

“Udah donk! Rumahnya deket sama aku” jawabku.

Pelajaran Kewarganegaraan dimulai. “Psst..” aku mencolek Zena dari belakang, ia menoleh. “Kita sekelas ya!” ucapku sambil melayangkan senyum untuknya.

“Iya. Kalau begitu, aku bisa belajar banyak dari kamu..” tukas Zena juga sambil tersenyum.

“Oke..”

Bel istirahat berbunyi. Aku dan Vera pergi ke kantin. “Kharis, aku ikut ke kantin dong..” tiba-tiba Zena menyambar dari belakang.

“Ya sudah ayo!”

Kami bertga lalu ke kantin. Aku membeli semangkuk bakso dan satu gelas air aqua. Zena membeli nasi goreng dan satu gelas es kelapa muda asli. Dan Vera hanya membeli dua batang coklat.

Ketika kami bingung menentukan tempat makan, Dezza teman sekelas Vera sewaktu kelas delapan menghampiri kami. Lalu mengajak Vera pergi. Tanpa basa-basi ia pergi tanpa pamit dan permisi.

“Sopan banget sih!” Zena tiba-tiba berkata seperti itu.

“Sudahlah... biarkan aja. Dia emang biasa kayak gitu.” Kilahku.

“Tapi kan dia seenaknya saja sama kita. Aku ngga suka orang seperti itu!”

“Ya sudahlah.. sabar aja deh. Sekarang makan aja yuk! Aku lapar. Kamu baik-baik aja disini.”

“Kita makan disitu aja.” Zena menunjuk tempat duduk kosong didepan kios Mas Jeri, yang jualan es-es.

Kami berdua makan sambil berbincang-bincang.

“Emang disini anaknya pada gitu-gitu ya?”

“Engga kok! Hanya beberapa. Cuma, kamu harus hati-hati sama anak-anak yang biasanya ngumpul di pojok kantin itu loh.. kalau engga kamu bakal dilabrak habis-habisan. Dibentak-bentak. Kata-katanya nusuk banget….” Aku bercerita dengan penuh ekspresi.

“Iya, tampangnya serem-serem. Kamu pernah dilabrak emangnya?”

“Hampir, sama yang badannya tinggi, itu. yang kulitnya putih. Gara-gara aku ngga bilang kalau orang yang sedang dicari sama dia itu ada di kelasku. Ya, orang aku ngga tau.”

“Eh, tapi itu cakep juga loh.. He he.”

“Dasar! Tapi, emang sih.”

“Wo.. eh, makanan kamu udah habis?”

“Udah. Balikin piring dulu, terus ke kelas yuk!”

“Ayo..”

Kami berdua lalu berjalan menuju kelas dan bebagi cerita. Dari dia aku tahu kalau kita tidak bisa diam bila ada orang seenaknya memperlakukan kita dengan tidak baik. Seperti Vera tadi, kalau tidak aku larang, ia pasti akan terus menegur Vera. Sampai Vera benar-benar sadar akan perilakunya yang salah.

Mungkin caranya terlihat agak keras ya.. tapi dengan cara begitu, banyak teman-teman di sekolahnya dulu sadar akan kesalahannya. Tapi, ada suasana tertentu yang kita tidak boleh seperti itu. Dan ia jadi punya banyak teman. Aku kagum padanya. Selama ini aku hanya diam bila ada teman yang salah. Jadi, sifatku juga salah dong?

Bel pulang berbunyi. Aku dan Zena pulang bersama. Ia dijemput. Aku ikut naik mobilnya. “Zen, kamu ngga jalan aja ya? Kan ngga terlalu jauh.” tanyaku.

“Kayaknya jauh deh Ris, kalau jalan.” Jawabnya bingung.

“Engga kok. Kamu belum tahu jalan pintas ya?”

“Jalan pintas? Memangnya ada?”

Ada dong!”

“Hari Senin kamu ngga usah di jemput. Pulang bareng aku aja.”

“Ya udah. Eh, rumah kamu yang pagarnya coklat ya?”

“Iya. Sudah sampai ya?”

“Iya.”

Aku turun dari mobil Zena. “Da Zena! Hari Senin jangan dijemput ya!”

“Beres bos! Da Kharis..”

Hari ini aku merasakan hal yang berbeda. Aku merasa kini ada sesorang yang sangat dekat denganku. Ia jadi seperti menggantikan ibuku yang kini tinggal jauh di Malaysia. Biasanya aku dan ibuku selalu berbagi cerita. Hi.. hi..ingat ibu, jadi sedih deh. Kapan ya ibu pulang ke Jakarta?

“Aku pulang..” ujarku.

“Eh, Kharis ya? Tadi ada surat tuh buat kamu. Dari majalah Bobo kalau ngga salah deh.” Ucap Kak Fathia seraya menyodorkan selembar map coklat untukku.

“Mana Kak? Aduh.. semoga puisiku bisa masuk lagi..” aku kegirangan mendengar ada surat untukku. Akupun membuka surat tersebut. “Yey! Alhamdulillah.. puisiku akan ada di majalah lagi!” aku meloncat kegirangan. Walau bukan yang pertama kali, aku senang sekali. Apalagi dapat honor.. He he he dua ratus ribu rupiah. Uang ini sebagian akan aku tabung. Dan sebagian lagi aku akan ajak saudaraku makan-makan. Sederhana sih makannya kalau bukan bakso, bakmi, ayam bakar, atau makanan sejenisnya yang rasanya enak dan spesial.

Pukul 14.00 aku langsung ke warung Nek Mariyem. Lagi-lagi Zena datang membeli sesuatu. Tapi kali ini ia hanya membeli kacang hijau untuk praktek menanam adiknya. Katanya ia bosan di rumah sekalian jalan-jalan. Jadi ia yang membelikannya.

“Ris, besok libur ya?” Tanya Zena.

“Iye. Mang kenapa?”

“Ya.. ngga seru dong. Bete di rumah. Eh, nanti malam aku main ke rumah kamu boleh ngga?”

“Ya boleh lah.. tapi kamu datang jangan malam-malam, soalnya jam delapan-setengah sembilan biasanya aku udah tidur.”

“Kharis tidurnya cepet banget sie.. aku saja jam sebelas biasanya baru tidur.”

“Iya, soalnya aku harus bangun pagi. Jam setengah lima aku harus nganter koran ke rumah-rumah. Kalau kesiangan gajiku bisa dipotong. Gitu loh.”

“Oh.. ya udah aku datang ke rumah kamu jam tujuh-an yach.”

“It’s ok..”

“Bye.” Zena pergi pulang ke rumahnya.

Kini aku sendirian lagi. Mmm.. sambil nunggu pembeli enaknya ngapain ya? Bingung untuk melakukan sesuatu, Nek Mariyem datang.

Ø TIGA

“Kharis…” Panggil Nek Mariyem.

“Eh, Nenek! Kok ngga istirahat? Nanti malam capek loh Nek!” ujarku ketika Nek Mariyem datang.

“Ngga. Lagi ngga enak aja. Nenek temenin Kharis ya!”

“Nenek tahu saja aku lagi kesepian. Bingung mau ngapain.”

“He.. he.. Nenek jago kan?” ucap Nenek dengan nada bercanda

“Nenek.. Nenek..”

“Kharis, gaji bulan ini mau diambil kapan?”

“Kapan aja kali Nek! Lagian masih tanggal 16. tengah-tengah bulan. Santai azza.”

“Ris, tau ngga?” Tanya Nek Mariyem sambil membelai halus kepalaku layaknya seorang nenek membelai cucu kandungnya. “Nenek kangen sama cucu nenek yang ada di kampung. Sekarang dia mungkin sudah sebesar kamu. Dan yang kecil sudah sebesar Tata.”

“Kenapa cucu nenek ngga pernah kesini ya? Padahal Neneknya kan ada di Jakarta. Biasanya yang ada di kampung itu kan neneknya. Nah ini kok cucunya Nek?”

“Iya, tadinya Nenek yang ada di kampung. Terus sama anak Nenek di ajak ke Jakarta. Nenek tinggal bersama anak Nenek. Karena ketekunan dia bekerja, usahanya maju dengan cepat. Rumah yang tadinya sangat sederhana di rubah menjadi rumah Nenek sekarang. Luas kan? Lalu, anak Nenek pindah ke rumah yang jauh lebih bagus. Dahulu ia masih sering menjenguk Nenek. Tapi kira-kira enam tahun belakangan ini ia tidak pernah lagi muncul. Pernah karena Nenek kangen, Nenek mencoba mencari rumahnya yang terdapat di daerah Kebayoran. Bukannya bertemu, Nenek malah tersasar. Ha.. ha.. ”

“Terus Nek?”

“Ya hingga sekarang Nenek hanya tinggal sendirian dan memanfaatkan rumah yang diberikan anak Nenek. Dan belum pernah bertemu lagi dengan anak Nenek yang membawa Nenek ke Jakarta. Tak terasa sekarang sudah enam tahun tidak bertemu dengannya.”

“Kalau cucu Nenek yang di kampung?”

“Jadi Nenek punya anak dua. Yang satu yang tadi Nenek ceritakan. Satu lagi tinggal di kampung. Dia punya dua anak. Satu anak perempuan, satunya lagi anak laki-laki.”

“Kenapa Nenek engga tinggal sama anak Nenek yang di kampung?”

“Mau Nenek juga begitu. Tapi Nenek belum punya cukup uang untuk mempersiapakan hidup disana. Lagipula Nenek masih ragu.”

“Lho kok gitu? Aku rasa untung penjualan di warung Nenek juga lumayan banyak kok Nek! Masa belum cukup sih?”

“Nenek masih pikir-pikir. Nenek takut mereka malah benci sama Nenek karena tidak pernah memberi kabar. Bukan maksud Nenek tidak mau beri kabar, tapi Nenek benar-benar tidak tahu dan bingung untuk hal yang ini.”

“Selagi Nenek bisa, kenapa Nenek ngga langsung aja pergi ke kampung Nenek? Mungkin disana Nenek akan menemukan kehidupa yang Nenek cari selama ini.”

“Maksud kamu?”

“Nenek yang setiap hari selalu membelai cucunya dengan kasih sayang, berkumpul selalu dengan orang yang dicintai. Tanpa terhalang jarak yang jauh. Selama ini aku berusaha untuk membahagiakan Nenek. Untuk melupakan kenangan pahit Nenek, yang tinggal sendiri tanpa ada keluarga dekat menemani. Andai aku benar-benar cucu kandung Nenek aku akan selalu membahagiakan Nenek dengan senyuman, kasih dan canda tawa. Tapi seberusaha apapun aku membahagiakan Nenek. Akan beda rasa yang dirasakan oleh Nenek apabila benar-benar cucu Nenek yang selalu ada di sisi Nenek.” Ujarku. Tanpa sadar air mataku menetes seolah merasakan kerinduan yang teramat.

“Kamu benar Kharis. Apa seharusnya Nenek segera pulang ya? Mungkin anak dan cucu Nenek sedang merindukan Nenek sekarang. Jarak memang menjadi beban bagi yang saling merindukan ya..” Nek Mariyem memeluk tubuhku lembut. Selembut hatinya yang baik hati. Ia juga meneteskan air mata haru.

“Kalau begitu, Nenek harus segera menemui keluarga Nenek. Gimana kalau besok aja Nenek berangkatnya?” usulku.

“Besok?”

“Iya Nek. Lebih cepat lebih baik. Lagi pula besok aku libur. Aku akan mengantar Nenek ke terminal.”

“Ya sudah. Besok Nenek akan berangkat. Sekarang Kharis tolong jaga warung Nenek dulu ya! Nanti Nenek kesini lagi. Nenek mau beres-beres barang yang akan dibawa. Oh ya Kharis, nanti warungnya gimana?”

Kan ada Kharis Nek! Nanti Kharis yang akan melanjutkan usaha Nenek. Hasilnya setiap bulan akan Kharis kirim ke kampong Nenek. Gimana?”

“Kharis.. Kharis.. kamu memeng cucu kesayangan Nenek. Di saat Nenek benar-benar membutuhkan seseorang untuk Nenek curahkan isi hati Nenek. Ada kamu. Walau kamu masih kelas tiga SMP, kata-katamu membuat hati Nenek berubah. Makasih ya..” Nek Mariyem lalu pergi menebarkan senyum. Aku tak pernah melihat Nenek sabahagia ini. Aku bersyukur telah bisa membuat Nek Mariyem bahagia.

Tak terasa, pembeli demi pembeli aku layani. Hingga kini waktu menunjukkan pukul 18.00, aku kembali ke rumah dan pamit pada Nek Mariyem. Sampai di rumah, sholat Maghrib berjamaah lalu tilawah dan bersegara mandi karena aku ingat jam tujuh malam Zena mau ke rumahku.

“Tok.. tok..” terdengar suara pintu diketuk. Aku langsung menyerbu dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Mang Dibyo mengantarkan surat undangan rapat RW yang tak pernah didatangi oleh orang yang ada di rumahku.

“Tok.. tok..” lagi-lagi pintu diketuk. Aku juga segera menyerbu pintu lagi. Ternyata Kak Fandy yang sedang bercanda. “Kak Fandy gimana sih? Aku kira kan teman aku..” “Ya maaf! Kak Fandy kan bercanda. Jangan marah dong.. senyum. Smile.”

“Tok.. tok..” pintu diketuk kembali. Aku sudah capek bolak-balik buka tutp pintu. Tata yang akhirnya membukakan pintu untuk orang yang mengetuk pintu. Ku intip siapa yang datang. “Hah? Zena!” aku langsung berlari menuju pintu.

“Zena, masuk Zen!”

“Eh, iya. Makasih.”

“Mau minum apa?”

“Apa aja deh. Tapi kalo ada minuman sirup campur kopi campur susu campur teh campur madu boleh deh.”

“Apa-apaan sih? Mana ada minuman kayak gitu?” aku mencubit pipi putihnya.

Aku lalu mengabilkan dua gelas teh hangat. “Ini dia. Silahkan.”

“Terimakasih..”

“Gini loh Ris, maksud kedatanganku kesini ini untuk dibantu dalam pelajaran IPA dan Kewarganegaraan. Kamu bisa kan ngajarin aku?”

“Sebenarnya itu agak susah sih. Tapi aku masih ngerti. Walau cuma sedikit. Tapi kamu bisa kan ajarin aku Bahasa Inggris? Sekolah kamu dulu Standart Internasional kan? Kudu bisa Bahasa Inggris dong.”

“Ngga masalah.”

Singkatnya kami belajar dan bediskusi hingga pukul 20.30. Aku lalu sholat Isya dan menulis diary. Diary kemarin belum aku tulis. Jadi aku mau tulis sekarang juga.

Kamis, 15 Februari 2007

Dear diary,

Pulang sekolah aku ke rumah Zena terus bicara-bicara tentang keluarga kita masing-masing. Dia anaknya enak di ajak ngomong, nyambung dan aku ngerasa cocok sama dia. Segini aja ya untuk hari ini. Bye..

Jum’at 16 Februari 2007

Dear diary,

Zena masuk ke kelas aku dan duduknya di depanku. Aku ke kantin bareng sama dia. Terus Amel biasa, ninggalin aku gitu aja kalau ada temannya. Yang menarik, Zena ternyata ga suka sama orang yang seenaknya. Hampir aja dia marah-marah sama Amel. Tapi untungnya ngga jadi. Pulang, aku bareng sama mobilnya Zena. Padahal kan sekolah dekat, untuk apa di jemput? Nek Mariyem tadi cerita-cerita ke aku tentang perasaan kangennya sama cucu dan keluarganya. Aku menyarankan agar ia kembali ke kampung. Dan besok aku akan mengantar Nek Mariyem ke terminal. Kalau besok Nek Mariyem pergi, aku akan kehilangan satu lagi orang yang aku sayangi. Tapi tak apalah. Kebahagiaan Nek Mariyem berkumpul bersama keluarganya lebih berarti. Dibanding aku egois dan membuat Nek Mariyem tidak boleh pergi (tapi, kan aku yang mendorong nenek untuk pergi ya?!?!?!?). Malam-malam, aku belajar bareng sama Zena, seru deh. Dah diary, aku capek nih.

Jam 3 aku bangun lalu sholat tahajud. Di dalam sholat itu, aku memohon dan berdoa. Aku mencurahkan segala perasaanku. Tentang ibu, ayah, paman, bibi, nenek dan kakekku yang juga telah meninggal lima tahun lalu, tentang Kak Fathia, Kak Fandy, Ayu, Tata, Fariz, Nek Mariyem, Zena, juga teman-temanku yang lain. Sangat indah berbagi cerita kepada Allah. Diantara semua orang yang pernah mendengar curahan hatiku, hanya kepada Allah hatiku menjadi lebih tenang.

Usai mengantar Koran ke rumah-rumah, aku mandi dan siap-siap mengantar Nek Mariyem ke terminal. Kak Fatia, Ayu, Tata dan Farizpun ikut mengantar Nek Mariyem. Mereka juga menyayangkan kepergian Nek Mariyem. Tapi, mau bagaimana lagi?

“Tata, Fariz ayo cepat! Nek Mariyem sudah menunggu..” aku memanggil Tata dan Fariz.

“Iya Kak! Sebentar lagi.”

Kami langsung berangkat menuju terminal Kampung Rambutan. Bus jurusan Jakarta-Surabaya sudah menunggu. Dan akan berangkat pukul 10.00, sekarang baru pukul 09.30.

“Kharis, Nenek pasti akan kangen sekali sama kamu. Juga sama Fathia, Ayu, Tata, dan Fariz.” Ujar Nek Mariyem sambil memeluk aku, Tata, Fariz dan Ayu erat.

“Iya Nek.. aku juga pasti akan kangen sama Nenek.” Jawab kami bersamaan.

“Kamu baik-baik ya! Jangan suka usil sama Ayu dan Fariz.” Nasihat Nenek kepada Tata.

“Iya Nek. Tapi kan yang biasa cari gara-gara itu Ayu juga Nek. Dia rese.”

“Tuh, baru di kasih tau sudah cari masalah lagi. Ingat pesan Nenek dong!”

“He.. iya Nek maaf deh.”

“Ayu juga jangan suka usil sama Tata. Nanti kalian berantem terus.”

“Oke Nek..”

“Fariz, kamu baik-baik ya disini. Jangan ikut-ikutan berantem sama Kakak kamu. Fariz kan anak yang baik..”

“Iya Nek!” Jawab Fariz dengan wajahnya yang lucu.

“Kharis, kamu jaga adikmu baik-baik ya! Adik-adikmu butuh contoh yang baik. Nenek yakin walau kamu sibuk menjaga warung nenek, kamu tetap bisa menemani adik-adikmu. Kharis, kamu benar-benar anak baik. Membantu Nenek setiap hari. Mengorbankan waktumu berjam-jam di dalam warung. Makasih ya Kharis.. Apa yang harus Nenek berikan untukmu?” ucap Nenek terharu.

“Nek, aku akan selalu ingat pesan Nenek. Makasih juga untuk setiap pemberian setiap cinta Nenek untukku. Kalau aku tidak sekolah, aku akan mengantar Nenek sampai Surabaya. Tapi,..”

“Kharis, cukup. Kamu sudah terlalu baik sama Nenek. Nenek tidak mau lagi merepotkan kamu. Kamu benar-benar memberikan kesan tersendiri untuk Nenek. Nenek ucapkan beribu terimakasih untukmu Kharis. Jangan lupakan Nenek ya!”

“Iya Nek.”

“Ini gaji kamu bulan ini.” Nek Mariyem memberikan bererapa lembar uang untuk gajiku.

“Udah, ngga usah Nek. Simpan saja untuk bekal Nenek di jalan. Harusnya aku yang memberikan uang untuk bekal Nenek kali..” Aku menolak secara halus.

“Makasih ya Ris.”

Untuk beberapa menit aku dan Nek Mariyem berpelukan. Apa rasa ini? Sedih sekali. Untuk sekian kalinya, aku kehilangan orang yang aku cintai.Setelah itu Nek Mariyem berbicara agak panjang sama Kak Fathia. Sepertinya Nek Mariyem memberikan nasihat-nasihat untuk Kak Fathia.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.55, lima menit lagi Nek Mariyem pergi. Ingin sekali aku melarang Nek Mariyem pergi. Tapi, apa hakku untuk melarang Nek Mariyem pergi? Harus aku ikhlaskan Nek Mariyem untuk bahagia bersama keluarganya.

“Nek, nanti Nenek balik lagi kesini ngga?” Tanya Tata.

“Kapan-kapan Nenek akan main ke Jakarta ya.”

“Yah.. Nenek!”

“Maafin Nenek ya..”

Akhirnya Nek Mariyem pergi. Duka yang dalam masih menyisa di dalam hati. Nek Mariyem adalah sosok Nenek yang penyabar juga tegar, baik hati dan berhati lembut. Aku meneteskan air mata seperti ketika ibu beragkat ke Malaysia. Hari ini lagi-lagi aku ditinggal orang yang aku cinta kembali. Aku dan adik-adikku sering sekali bermain ke rumah Nek Mariyem dan mengusir kesepian Nek Mariyem. Yang aku heran, mengapa setelah sekian lama Nek Mariyem dekat denganku baru sekarang ia cerita itu kepadaku. Aku tak mengerti. Hanya Nek Mariyyem dan Allah yang tahu. Mungkin setelah ini Nek Mariyem akan menemukan kebahagiannya.

Setelah ini, aku berencana mengajak adik-adikku dan Kak Fatiha untuk makan Bakso ‘Pak Ucup’ yang rasanya uenak tenan. Tapi harga satu porsinya cukup mahal sepuluh ribu rupiah. Dua kali lipat dari harga bakso biasa. Sayang Kak Fandy tidak bisa ikut karena ada acara. Tapi aku akan tetap membelikan bakso buat Kak Fandy.

“Pak, pesan baksonya enam ya, makan disini. Tapi satu dibungus. Sama es tehnya lima.” Kak Fathia memesan makanan.

Tak lama kemudian bakso dan es teh pesanan kami datang. “Ayo kita makan…” ujar Tata tak sabar lagi.

“Ingat! Makannya dihabiskan ya.. Kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat yang ia berikan. Nanti semuanya Kak Kharis yang bayar.”

“Emang Kak Kharis punya uang?” Ayu meledek

“Iya dong.. puisi Kak Kharis masuk lagi ke majalah. Dapat honor. Lumayan kan… bisa nraktir kalian.”

“Tunggu apa lagi? Ayo makan…” seru Tata lagi.

Aku dan Kak Fathia hanya tertawa melihat tingkah adik-adikku. “Kak, panas…” tiba-tiba Fariz merengek kepada aku dan Kak Fathia. “Ha.. ha..” “Sini, Kakak suapin.” Kak Fathia lalu menyuapi Fariz. Kami makan dengan bahagia walau habis bersedih.

Sampai di rumah, pukul 12.00, aku sholat zuhur. Usai sholat zuhur aku berencana ke warung Nek Mariyem. Mau jaga warung lagi sambil memikirkan siapa yang akan menggantikanku menjaga warung.

Zena datang, “Hai Ris! Lagi ngapain? Aku mau beli telur sekilo dong..”

“Eh, Zena. Telur sekilo ya? Sebentar..”

“Ini telurnya.”

“Makasih. Eh, kamu kenapa? Bete banget keliatannya.”

“Iya nih. Yang punya warung sekarang pulang ke kampung dan ngga tahu balik lagi apa engga. Terus aku disuruh ngejagain warungnya terus. Yang aku bingung, siapa yang bakal ngejagain warungnya kalau aku lagi sekolah?”

“Emang yang punya warung rumahnya dimana?”

“Itu loh. Persis di belakang warung ini. Ngga keliatan emangnya?”

“Oh, iya.. Eh, tadi kamu bilang kamu sedang mencari pengganti penjaga warung ya? Ada adik pembantuku yang masih nganggur. Mungkin ia bisa membantu menjaga warung.”

“Serius?” aku tak percaya.

“Ya iyalah..”

“Kalau begitu bilang sama adik pembantu kamu mulai besok bisa Bantu aku ya. Nanti dapat gaji kok. Oke.. kalau bisa, jaga warung seharia ya? Soalnya aku ingin fokus sama sekolah. Tapi aku nanti tetep ke sini kok.”

“Iya deh Nona.. aku pulang dulu yach. Bye,…”

Akhirnya aku mendapatkan pengganti menjaga warung Nek Mariyem. Mulai besok, aku punya sedikit waktu luang untuk di rumah. Bermain bersama adik-adikku. Aku tersenyum.

Tak terasa hari ini berlalu begitu saja. Kini malam telah menjelang, dan aku bersiap-siap tidur. Namun sebelum itu aku menulis diary.

Sabtu, 17 Februari 2007

Dear diary

Hari ini Nek Mariyem pulang kampung. Dan aku tak tahu Nek Mariyem akan kembali atau tidak. Sedih aku.. Tadi, aku juga mentraktir Bakso Pak Ucup untuk Kak Fathia, Ayu, Tata, dan Fariz. Kak Fandy hanya aku bungkuskan karena tadi tidak bisa ikut. Warung Nek Mariyem juga sudah ada yang akan menjaganya. Yaitu adiknya pembantu Zena. Alhamdulillah semuanya terselesaikan. Besok akan ada pengajian pekanan di rumahku. Dan yang akan mengisi tak lain adalah Kak Fathia. Dah dulu ya diary. Bye..

Pukul 09.00, pengajian pekanan itu dimulai, kata Kak Fathia itu namanya Liqo. Aku liqo bersama lima orang temanku, Laila, Aiya, Silmy, Shofwa dan Nadia itu nama satu liqoku yang dikenalkan oleh Kak Fathia, katanya agar aku punya banyak teman. Rumah mereka letaknya agak jauh dari rumahku. tapi walau begitu mereka tetap rajin hadir dalam liqo itu.

Hari ini Kak Fathia berbicara tentang Gaul yang islami. Kami berdiskusi habis-habisan agar kita tidak KuPer alias kurang pergaulan tapi juga tidak terjerumus kepada hal yang tidak baik. Pokoknya seru deh. Walau tadi ada sedikit perbedaan pendapat, tapi tetap acara liqo ini mengasyikkan.

Ø EMPAT

Kini telah dua pekan Zena tinggal di rumah itu dan menjadi tetanggaku. Dan dalam waktu dua pekan, aku merasa ia adalah sosok seorang yang baik hati, dapat di percaya, tidak mengada-ada dan benar-benar tulus berteman denganku. Aku berharap, ia benar-benar akan menjadi sahabat terbaikku setelah aku seringkali hanya di manfaatkan dalam berteman. Setiap hari aku dan dia berbagi cerita. Semuanya tentang lika-liku kehidupan yang kita berdua jalani.

Aku juga berniat mengajaknya ikut pengajian pekananku (liqo) bersama Kak Fathia. Agar persahabatan kami tidak hanya ada di dunia tetapi juga abadi hingga akhirat nanti. Semoga..

Pulang sekolah, ketika aku bersiap-siap menuju warung Nek Mariyem, “Tok.. tok..” “Pos.. pos..” mendengar suara itu, aku segera membukakan pintu. Pak Pos berdiri di depan rumahku. membawa sebuah amplop yang tak tahu untuk siapa amplop tersebut.

“Ini ada surat dek.”

“Iya, terimakasih.”

Aku mengamati surat tersebut. Pengirimnya ibu Syarifah Adinda, ibuku.. aku meloncat kegirangan sambil berteriak “Surat dari Ibu!!!!!!!!!”

Kak Fathia yang berada di kamar sampai kaget dan keluar dari kamarnya “Ada apa sih Ris? Kok teriak-teriak begitu?”

“Sorry Kak! Soalnya aku seneng banget dapet surat dari Ibu..”

“Oooh.. Kharis-Kharis, senang ya?”

“Ya jelas lah Kak!”

“Ya sudah, kalau ada perlu, Kakak ada di kamar.”

“Iya Kak!”

Aku mulai membaca surat dari ibu dengan seksama.

Kepada: Jakarta, 21 Februari 2007

Kharis, Anakku tercinta

Di tempat

Assalamualaikum.wr.wb

Kharis, anakku yang ibu cintai. Senang ibu mendengar kamu bahagia di Jakarta. Bersama orang-orang yang kamu sayang dan cintai. Ibu disini baik-baik saja, sehat wal afiat. Ibu juga tinggal bersama orang-orang yang baik hati. Seperti Shera, teman ibu satu kamar, Jihan pembantu di tempat yang ibu tinggali dan banyak lagi. Soalnya ibu tinggal

Kharis, ibu senang kamu masih ingat ulang tahun ibu. Ibu sendiri lupa tanggal 14 Februari itu ulang tahun ibu. Maklum sudah tua, jadi pikun deh… makasih ya puisi yang kamu buat khusus untuk Ibu. Bagi Ibu, itu adalah puisi terindah dari semua puisi yang indah. Karena Ibu yakin kamu membuatnya dengan cinta, tanpa perasaan itu Ibupun tidak akan bisa merasakan cinta yang ada dalam puisi tersebut.

Ibu juga kagum, anak ibu satu-satunya bisa membuat puisi dan masuk ke majalah. Ibu bangga. Kamu hebat Kharis, terus lanjutkan dan buat lagi karya-karya yang menghipnotis setiap yang membacanya. Terus gali potensi yang ada dalam diri kamu. Ibu akan terus mendoakanmu agar kamu bisa sukses menjalankan cita-citamu, dokter yang pandsai menulis. Cita-cita ibu dulu. Meski dari jauh, doa ibu menyertaimu selalu.

Kharis, asal kamu tahu, ibu sangat-sangat kangen dan teramat-amat kangen sama kamu sayang. Kalau saja, ibu tak harus bekerja di Malaysia, ibu lebih ingin bersamamu selalu. Memelukmu erat, menciumi pipimu, membelai halus rambutmu setiap hari. Andai saja jarak tak memisahkan kita..

Kharis, Insya Allah Bulan Juni ibu akan pulang ke Jakarta. Ini bonus liburan dari bos ibu. Saat ibu ke Jakata, Ibu akan melihat nilai-nilai ujian kamu yang akan bagus dan kamu masuk ke SMU favorit. Kamu harus bejanji tidak akan mengecewakan Ibu kan Kharis? Ibu tahu kamu adalah anak pekerja keras dan tidak mudah menyerah. Bermodal itu, semoga kamu bisa melalui ujian akhir dengan mudah.

Cukup panjang yang telah ibu tulis dalam kertas ini. Sebenarnya, Ibu masih ingin berbicara lebih lanjut, tapi tak mungkin semuanya di tulis di sini kan? Bulan Juli, Ibu akan bercerita tentang semuanya. Tapi, kamu harus ingat pesan Ibu, ingat itu. Jadi, sudah dulu ya. Dah Kharis.. Oh, iya Kharis uang bulan Maret, baru ibu kirim. Tak apa kan?

Wassalamualaikum.wr.wb.

Ibumu, Syarifah Adinda

`Salam manis selalu untuk kamu`

Aku tersenyum membaca surat itu. dalam hati aku berjanji akan selalu mengingat pesan Ibu. Ketika aku akan melipat kertas dan akan kembali memasukkan kertas itu ke amplop, selembar kertas berbentuk hati bewarna merah muda jatuh ke lantai. Aku membacanya dengan seksama

Dalam penantian

Sepucuk surat datang dengan

Kata yang indah teruntai

Masuk dalam benak serta qalbu

Yang tak lain

Dari permata yang bersinar

Bagai matahari di kala senja

Air mataku menetes terharu, begitukah ibu mengartikan sebuah suratku? Walau singkat, kata-katnya bermakna bagiku. Aku yakin, ibu menulisnya dengan sepenuh cinta. Karena aku merasakan aura itu ketika membacanya. Semoga, aku tak lagi pernah menyakiti seorang IBU.

Tanggal 5 Maret. Saat aku mengambil gaji kerjaku sebagai loper koran. Ha.. ha.. uang jajan selama sebulan. Tapi tak akan ku habiskan, aku juga akan menabung untuk sewaktu-waktu jika diperlukan. Uang bulanan dari ibu kapan datangnya ya? Terus, warung Nek Mariyem yang kini kupercayakan kepada adik pembantu Zena yang bernama Lela itu bagaimana ya? Kini, aku jarang kesana, karena tuntutan pelajaranku yang menyebabkan aku sibuk dan tidak sempat kesana. Hari ini, pulang sekolah aku akan coba cek kesana. Semoga keadaannya tetap seperti saat aku masih sering kesana atau lebih baik.

Surat dari ibu, aku tunjukkan kepada Zena. Ia lalu bertanggapan “Kharis, ternyata tinggal jauh sama orang tua itu ngga enak ya??”

“Ya iya lah. Rasanya kangen.. terus. Kalau ingat waktu ibuku masih disini, aku sering marah-marah sama ibu, rasanya berdosa.. banget. Apalagi kalau sudah jauh kayak begini.” Jelasku.

“Oh, gitu ya? Kemarin aku baru marah-marah sama mama, dan belum sempat minta maaf. Gimana ya?”

“Ya, sudah. Segeralah minta maaf. Ngga baik mengundur-ngundur minta maaf.”

“Iya sih. Tapi..”

“Jangan pakai tapi-tapian, cepat minta maaf lebih baik.” Kilahku.

“Tapi aku mau ke toilet.”

“Eh, sorry kirain.. apaan. He.. he.. he..”

“Ya sudah, aku ke toilet dulu. Kamu naik aja duluan.”

“Oke..”

Ø LIMA

Bel Pelajaran Biologi selesai. Berganti menjadi pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Gya masuk. Selain belajar Bahasa Indonesia seperti biasa, Bu Gya memberikan pengumuman lomba Menulis Puisi.

“Ya, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengadakan lomba menulis puisi. Temanya bebas. Bagi kelas ini yang bersedia ikut lomba ini, silahkan puisinya berikan saja pada saya, nanti saya akan kirimkan ke Dinas Pendidikan. Ada pertanyaan?”

Aku mengangkat tangan “Bu, tulisannya diketik atau tulis tangan rapi?”

Bu Gya menjawab “Di tulis tangan saja dengan menggunakan huruf tegak bersambung. Ingat yang rapi..”

Saran Ibu, harus aku jalani. Mendalami dunia tulis-menulis. Semoga dengan aku ikut lomba ini aku bisa menang dan mempermudah langkahku selanjutnya. Ibu, aku tidak akan mengecewakanmu.

Sepulang sekolah, aku langsung masuk kamar, mengunci diri untuk membuat puisi. Karena terlalu berambisi, puisi yang aku buat malah tak jadi-jadi. Lantas aku malah tertidur kelelahan. Aku bermimpi aneh yang akupun tak tahu maksudnya. Ada dua orang berbadan besar menghampiriku dan berkata bahasa planet. Sangat aneh. Seumur-umur, aku baru pernah bermimpi seperti itu.

Aku baru ingat belum sholat Zuhur. Aku melirik jam tangan yang masih ku pakai pukul 14.30, “HAH? Gaswat nih…” segera aku sholat Zuhur dan mengganti pakaian seragam yang masih aku kenakan. Sore ini aku dan Zena janjian belajar bersama. Karena besok ulangan Bahasa Inggris.

Malam hari, sebelum tidur, aku menulis diary.

Rabu, 5 Maret 2007

Dear diary,

Tadi ada pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran Bu Gya, Bu Gya bilang ada lomba buat puisi. Aku senang.. sekali. Terus pulang sekolah, aku langsung mengunci diri di kamar. Tak tahu kenapa eh ketiduran sampai jam setengah dua, dan aku belum sholat zuhur. Ya Allah, maafin aku ya.. Aku janji dalam hati aku harus bisa membahagiakan Ibu melalui prestasi-prestasi yang semoga dapat ku raih… Aku senang deh kemarin dapat surat dari Ibu. Apalagi bulan Juli Ibu mau ke Jakarta. Alhamdulillah ya Allah.

“Hoaem..” pagi hari aku bangun pada pukul 02.45 lalu aku kembali belajar Bahasa Inggris dilanjutkan sholat tahajjud dan menghafal Qur’an juz 28. Dan, mengantar Koran.

Ketika aku baru akan berangkat ke sekolah, ternyata Zena telah menunggu di depan rumahku. Ia sengaja menungguku untuk berangakat bersama. Lewat jalan yang biasa aku lewati, kami berangkat bersama.

Sesampainya di sekolah, aku sibuk membuat puisi. Memilah kata yang dan menentukan judulnya. Sampai-sampai aku tidak fokus ketika dua pelajaran pertama. Pelajaran Seni Budaya dan Agama. Untungnya pelajaran setelah istirahat, puisisku telah selesai. Tapi masih perlu diperbaiki kembali. Tak apalah, yang penting aku sudah bisa menggambarkan bagaimana suasana puisi yang akan aku buat.

Ulangan Bahasa Inggris dengan mudah aku kerjakan. Bagaimana hasilnya, aku tak tahu. Tapi semoga hasilnya bagus. Yang jelas aku sudah belajar.

Pulang sekolah aku ke ruang guru untuk bertemu dengan Bu Gya. Aku meminta brosur lomba yang di adakan oleh Dinas Pendidikan.

“Bu, saya minta brosur lomba Menulis Puisi yang kemarin Ibu katakana dong. Saya mau ikut tapi masih kurang jelas.”

Melihat antusisaku, Bu Gyapun memberikan brosur itu padaku. “Oh, iya boleh. Sebentar ya Kharis.” “Ini brosurnya. Kamu kan jago nulis puisi, Ibu harap kamu bisa membuat puisi dengan sebaik-baiknya dan bisa menang. Oke?”

“Iya Bu.” Aku mengangguk mendengarkan pesan Bu Gya.

Di rumah, setelah aku sholat tentunya aku membaca brosur yang Bu Gya berikan. Disana tertulis bahwa lomba itu adalah lomba Menulis Puisi yang dengan cara di kirimkan. Temanya bebas, diadakan oleh Dinas Pendidikan. Penilaiannya di lihat dari isi, karakter, pesan yang terkandung dan kreativitasnya. Ditulis dengan tangan. Pengumuman pemenang tanggaal 7 April 2007.

Di pojok kiri bawah, tanggal pengirimannya adalah dari tanggal 28 Januari sampai 9 Maret. Aku kaget. Berarti waktuku untuk benar-benar merampungkan puisi hanyalah tinggal tiga hari lagi. Aku harus bersegera merampungkan puisiku. Aku heran, kenapa Bu Gya baru memberikannya sekarang ya?

Setelah sudah aku perbaiki, puisiku sudah benar-benar jadi. Tapi aku masih bingung akan aku beri judul apa puisiku. Aku membaca puisiku lagi seperti ketika aku membaca puisi di kelas waktu itu. Dengan mimik dan gerakan yang sesuai tentunya. Tak lupa aku kunci pintu kamar agar tak seperti di kelas. Kalau dingat-ingat kejadian itu lucu juga ya?

Ku lihat awan begitu gemerlap menghias dunia

Seakan membacakan deguk hatiku

Yang kini sedang berbahagia

Aku berhasil melewati semua beban

Kini aku bebas tanpa aral

Takkan lagi lagi

Orang yang akan menghalangi setiap langkahku

Takkan lagi ada

Bayangan buta yang terasa mengikuti setiap jejakku

Aku bersyukur kepadamu Ya Rabb..

Ku telah menemukan jawaban atas

Pertanyaan yang sering kali ku lanturkan setiap waktu

Inilah kehidupan yang ku damba

Duka yang telah mencoreng perjalanan hidupku

Menggoreskan sesuatu yang pahit di hati

Tapi, apakah harus aku simpan selalu?

Hari ini aku telah menemukan semuanya

Tak cukupkah aku untuk bersyukur?

Dengan tak lagi mengingat duka itu

“Mmm.. kira-kira aku beri judul apa ya?” aku masih bingung menentukan judul untuk puisi tersebut.

“Tok.. tok..” seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Siapa ya?” tanyaku seraya membukakan pintu.

Yang diluar menjawab “Kakak Ris.”

“Kenapa Kak?”

“Kamu kok belum makan masakan Kakak sih? Kamu belum makan kan?”

“Oh iya Kak! Lupa.. pulang sekolah langsung sholat dan ngelanjutin puisi buat ikut lomba Kak.”

“Oh.. jadi yang mau ikut lomba serius banget sampai lupa makan ya?” sindir Kak Fathia.

“Iya Kak. Maaf.. aku lupa. Habis, paling lambat tanggal 9 Maret dikumpulinnya. Jadi sibuk deh..”

“Coba mana puisinya Kakak lihat.”

“Gimana Kak? Bagus ngga? Kira-kira judul yang bagus apa ya?”

Kak Fathia diam sebentar dan mengamati puisiku. “Bagus puisinya. Gimana kalo judulnya HIJRAH.” Usulnya.

“Bagus juga sih. Tapi kata HIJRAH itu bisa dimengerti masyarakat luas ngga ya?”

“Gimana kalau SYUKURKU?”

“Boleh juga..”

“Lumayan kan?”

“Iya, makasih Kak!

Malam harinya aku menyalin puisiku dengan serapi-rapinya supaya dewan juri tertarik membaca puisiku. Semoga.. semoga… sebelum tidur, aku menulis diary.

Rabu, 7 Maret 2007

Dear diary,

Puisiku sudah jadi dan sudah beres. Rencananya besok aku mau kasih ke Bu Gya untuk segera dikirimkan ke Dinas Pendidikan.aku jadi benar-benar berharap.. tapi, saingannya juga banyak. Berharap holeh. Tapi jangan terlalu berharap Kharis. Ingat itu.. Tadi aku gajian loh.. terus uang kiriman Ibu juga sudah sampai. He.. he.. lagi banyak duit aku…

Di sekolah aku menyerahkan puisiku segera ke Bu Gya. Sebelum itu, Zena yang membaca puisiku berpendapat “Rissssssssss. Bagus deh, kamu gimana cara buatnya? Tak aku sangka temanku yang imut-imut ini jago buat puisi.” Ujarnya sambil menepuk-nepuk pundakku. Dasar Zena…

Ketika Bu Gya membaca puisiku, Bu Gya juga memujiku sama seperti Zena hanya tak sehisteris Zena. “Bagus.. bagus.. nanti akan segera ibu kirim ke Dinas Pendidikan. Semoga puisi kamu bisa menang.”

Aku harusnya banyak-banyak bersyukur ya, banyak orang yang menyukai puisiku. Aku senang. Terimakasih ya Allah. Alhamdulillahhirabbil`alamin.

*** **** ****

Hari demi hari, aku banyak-banyak belajar karena akan menghadapi ujian akhir. Sekolahku sering diadakan try out dan aku terus belajar. Aku juga terus menunggu tanggal 7 April yang terasa lama sekali. Jantungku berdeguk kencang bila mengingat tanggal tersebut. Sebab, tanggal itu tanggal di umumkannya pemenang lomba Menulis Puisi. Apa harapanku terlalu besar ya memenangkan lomba Menulis Puisi se-DKI Jakarta? Tapi semoga tidak. Semoga ini tak hanya khayalan tapi juga akan menjadi kenyataan.

“Kini sudah tanggal 6 April. Tapi tak ada kabar tentang puisiku. Apa aku yang terlalu berharap ya? Ya, tapi semoga semua berjalan sesuai harapanku.” Gumamku dalam hati sambil berharap.

Keesokan harinya aku menjalani hari seperti biasa. Berjalan dengan sewajarnya. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku soal lomba itu. Apa aku memang tidak juara? Seharusnya hari ini ada pengumuman tentang puisiku. Kenapa tak ada kabar? Tapi entahlah tak ada yang tahu takdirku bagaimana kecuali Allah S.W.T. Aku hanya berserah kepada-NYA.

Hari Minggu aku sibuk di warung Nek Mariyem menghitung penghasilan dan membaginya dengan adil. Setengah dari hasil penghasilan aku kirimkan kepada Nek Mariyem yang berada dikampungnya Surabaya melalui wesel pos.

Pagi-pagi aku sholat Tahajud. Tadinya aku masih berharap soal lomba Menulis Puisi. Tapi sampai detik ini aku belum mendengar apapun tentang lomba itu. Biarlah.. Mengantar koran lalu berangkat ke sekolah bersama Zena.

Hari ini upacara. Membosankan bagiku tapi harus tetap ikut upacara. Itu sudah menjadi kewajiban pelajar kan? Tanpa aku sangka, di akhir upacara namaku disebut. Anak nakal seperti aku biasa tak mendengarkan omongan aku hanya bertanya kepada temanku “Ada apa sih?”

Benar-benar tidak aku duga ternyata namaku disebut karena aku memenangkan lomba Menulis itu. Dan, sekarang aku di panggil ke depan. Teman-temanku termasuk Zena mendorongku ke depan. Aku hanya tersipu. Pipiku terlihat sedikit memerah. Ini sebuah kejutan untukku. Mengapa Bu Gya tidak segera memberitahuku ya?

Aku maju ke depan piala yang lumayan tinggi dan besar, berwarna perak, bertuliskan JUARA II LOMBA MENULIS PUISI dan tertulis jelas namaku ‘Kharista Maulida Azzahra’ yang akhirnya diberikan kepadaku. Rasanya bahagia sekali. Senyum menghiasi langkahku.

Aku sempat tak percaya. Tapi Subhanallah, ternyata aku jadi JUARA. Terimakasih ya Allah.. Aku bahagia sekali. Ibu.. waktu ibu kembali ke Jakarta aku akan mempersembahkan piala ini untuk ibu.. seseorang yang kucintai.

Selain itu, aku juga mendapat tabungan pendidikan sebesar sepuluh juta juga piagam. Ya, uang tabungan itu untuk aku masuk SMU, jadi aku tidak akan merepotkan ibu yang selama ini pontang-panting mencari biaya untukku. Aku terus mengucap puji syukur.

“Zen, aku senang deh..” ucapku mengeluarkan segenap rasa di hatiku dengan kata-kata.

“Selamat ya Ris! Kamu memang jago buat puisi. Semoga kelak kamu bisa jadi penyair seperti Chairil Anwar. Aku dukung kamu selalu..” Zena mendukungku. Kami tersenyum berdua lalu dengan kompak kami berjalan ke dalam kelas.

Pulang sekolah aku langsung masuk dan berteriak “Kak Fathia… aku menang lomba menulis puisi Kak…”

“Ada apa sih Kharis? Kok teriak-teriak begitu?” Tanya Kak Fathia begitu melihatku membawa sebuah piala.

“Kak.. Alhamdulillah aku jadi juara lomba menulis puisi..” aku tersnyum dengan berbagai arti.

“Oh ya? Selamat ya! Adik Kakak ini memang pintar ya....”

“Makasih Kak!”

Tak beberapa lama kemudian Tata, Ayu dan Fariz keluar karena terbangun dari tidurnya. “Ada apa sih Kak Zena? Kok teriak-teriak?”

Aku hanya tersenyum memamerkan gigiku. “Maaf deh! Gara-gara Kakak teriaknya kekerasan kalian jadi bangun ya? Kakak senang banget sih.. Kakak juara lomba puisi sih..” ujarku.

“Wah, menang lomba puisi ya? Selamat deh Kak!”

“Iya nih. Lagi senang ya? Di traktir boleh dong.”

“Iya Kak! Boleh nih..”

“Iya.. iya.. nanti kalau Kakak punya uang ya..”

“Hahaha…” Kami berlima tertawa bahagia.

Malam hari aku menulis diary,

Senin, 9 April 2007

Dear diary,

Hari ini aku senang.. sekali. Bahagia.. sekali. Untuk pertama kalinya aku menjuarai lomba menulis puisi. Juara dua, yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Jakarta. Wah, berarti aku juara se-DKI ya? Senangnya.. aku bersyukur sekali. Karena ini tak aku sangka-sangka. Alangkah senangnya. Piala ini akan aku tunjukkan ke Ibu. Semoga Ibu bahagia sama sepertiku. Amin. Dah diary…

**** **** ****

Tanggal 5 Mei 2007, aku Ujian Nasional. Ujian Nasional itu aku siapkan dengan sungguh-sungguh. Belajar dengan serius juga memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak kurang dari satu minggu aku akan menghadapi penentu kelulusanku. Semoga dengan akhir yang memuaskan.

Ø ENAM

Ujian hari pertama di mulai dengan pelajaran Matematika. Soalnya agak rumit juga banyak. Tapi, aku tetap bisa mengerjakannya. Karena aku sudah memahami rumus matematika. Ini juga berkat pertolongan Allah.

Karena duduknya sesuai nomor induk, aku dan Zena terpisah kelas. Aku berada di kelas VIII C dan Zena yang murid baru di kelas IX F. Tapi, seusai UN (Ujian Nasional) kami pulang bersama sambil membahas soal UN tadi. Nanti sore aku akan belajar bersama Zena. Belajar Bahasa Indonesia. Semoga besok aku juga dengan mudah mengerjakan soal. Amin.

Kemarin lusa aku sudah mengatur semua keuanganku. Mulai dari honor mengantar koran, dan warung Nek Mariyem. Seharusnya sih sekarang, tapi berhubung kemarin, hari ini hingga dua hari ke depan aku harus ekstra belajar, jadi aku sekarang aku sudah mengirimkanuang untuk Nek Mariyem. Dan, meminta honor lebih cepat dari Bang Hanif. Pagi, selama tiga hari aku tidak mengantar koran. Aku benar-benar serius untuk mendapatkan nilai yang bagus. Semoga usahaku tidak sia-sia.

Walau tidak mengantar koran, bukan berarti bangun lebih siang. Aku tetap bangun pagi-pagi. Sholat tahajjud dan belajar ulang pelajaran Bahasa Indonesia untuk lebih lama. Pukul 06.30, aku telah tiba di sekolah. Wow! Ini waktu yang cukup pagi bagiku. Untuk disiplin samapai disekolah jam 06.30 hari ini aku bisa. Tapi seterusnya bisa tidak ya?

Soal Bahasa Indonesia terdiri dari 50 buah soal. Agak membingungkan karena pilihannya menjebak. Tapi sebenarnya tidak terlalu susah sih..

Hari ini hari terakhir UN. Bahasa Inggris mata pelajaran yang akan di ujikan hari ini. Ya, aku bisa mengerjakan soalnya. Walau aku tidak yakin semua jawabannya benar. Ya, semoga hanya salah sedikit.

Begitulah. Aku hanya berharap dan berdoa mendapat yang terbaik. Dan pagi ini aku kembali mengantar Koran. Pekerjaanku seperti biasa.

Sedih sebenarnya aku sudah tiga tahun berada di SMPN 42 ini. Sudah dekat dengan teman-teman yang baik dan ramah padaku. Walau terkadang mereka juga suka seenaknya kepadaku. Vera, Amel, Delila, Denia, Jane, Arin, Sonya, Alisha, Merry, Dhena, Izzha, Vidha dan Zena. Walau Zena baru pindah ke sekolahku bulan Februari, ia benar-benar menjadi sahabat baikku. SMU, kami berencana satu sekolah kembali.

Kenanganku selama di SMP apakah bisa terulang kembali? Saat dimana kami semua saling melengkapi. Di SMU bisa tidak ya aku kembali menyesuaikan diri? Jadi teringat saat pertama aku masuk SMP. Aku hanya sendirian, dari SDku tidak ada yang masuk SMP sama seperti aku. Saat itu aku hanya sendirian. Tapi lama-kelamaan aku mulai punya banyak teman.

*** **** ***

Malam hari, Kak Fandy tiba-tiba memanggilku “Kharis.. Kharis.. ini ada telpon dari ibu kamu.”

Serentak aku kaget dan menjawab “Mana Kak? Serius dari ibu?”

“Iya. Benar. Cepat. Nelpon dari Malaysia mahal loh..”

“Assalamualaikum. Halo, Ibu?”

“Waalaikumussalam. Kharis ya?”

“Iya. Ibu? Ibu gimana kabarnya?”

“Baik-baik aja. Kharis gimana?”

“Sangat baik Bu! Bahkan setelah mendegar suara Ibu Kharis merasa menjadi orang tersehat di dunia.”

“Ha.. ha.. kamu dasar. Masih saja tidak berubah.”

“Bu, Kharis kangen sama Ibu. Ibu kapan ke Jakarta?”

“Ibu juga kangen.. rindu.. sekali sama kamu.”

“Ibu.. aku juara lomba Menulis Puisi loh..”

“Oh ya? Selamat ya.. anak Ibu memang hebat..”

“Makasih Bu.”

“Kharis, dua minggu lagi Ibu dapat cuti dari tempat Ibu bekerja. Anaknya Bos Ibu menikah jadi dapat cuti satu bulan. Lama ya? Ibu mau ke Jakarta loh..”

“Serius Bu?”

“Iya. Ibu itu udah ngga sabar ketemu kamu.”

“Nanti sehri sebelum Ibu berangkat ke Jakarta Ibu telpon Karis ya?”

“Siap deh.. sekarang sudah dulu ya.. Ibu masih punya pekerjaan. Da Kharis..”

“Dah Ibu..” Aku mengakhiri pembicaraan kami di telepon.

Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama berbicara sama ibu. Tapi mau bagaimana lagi? Yang penting aku sudah mendengar suara ibu dan aku tahu sekarang ibu baik-baik saja. Aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu yang teramat sayang padaku. Hingga ia rela mencari uang untukku hingga ke Negeri Jiran Malaysa.

Usai berbicara dengan ibu lewat sambungan handphone Kak Fandy, aku segera masuk ke kamar dengan hati bahagia yang tak bisa tersusun lewat kata-kata. Aku melihat selembar kertas yang sudah lecek tergeletak dibawah tempat tidurku. Aku segera memungutnya.

Ketika aku membalik kertas itu ternyata adalah jadwal kegiatan selama ujian. Kenapa bisa ada disini ya? Entahlah. Aku lalu membacanya disana tertera tanggal UN, UAS, serta ujian praktek. Dan semuanya telah aku jalani.

Hanya aku belum mencatat tanggal berapa pengumuman kelulusan dan pendaftaran masuk SMU Negeri serta tanggal porseni. Pengumuman kelulusan masi tiga minggu lagi. Sementara pendaftaran dimulai tanggal 1 Juli. Aku mencatat jadwal itu di buku agendaku tersayang.

Aku lalu menulis diary,

Senin, 4 Juni 2007

Dear diary,

Ibu nelpon aku tadi. katanya dua minggu lagi ibu mau kesini. Ya ampun.. senang sekali. Sudah dua tahun ibu tidak ke Jakarta. Akhirnya.. Aku ridu ibu.. Aku cinta ibu.. Aku sayang ibu.. Aku mau peluk ibu.. Aku mau cium ibu.. Aku mau bilang ‘maafkan aku ibu’... aku sudah tak sabar menunggu hari kedatangan ibu. Aku akan buat ibu bangga sama aku. Tapi, ngga lama lagi aku masuk SMU loh.. tak terasa ya. Padahal, sepertinya dulu aku baru saja masuk SMP, sekarang sudah mau lulus SMP. Ha.. ha.. waktu memang membuat kita bingung ya. Begitulah..

*** **** ****

Hari-hari sebelum hari perpisahan kami isi dengan membuat album kenangan, jalan-jalan dan mengukir kenangan di SMP. Aku, Zena, Amel, Delila dan teman-teman lainnya juga sibuk mengukir hari. Ya, walau kami berencana tetap satu SMU, kami tidak mau menyia-nyiakan tiap detik di SMP yang hanya sekali seumur hidup. Kami hanya masuk sekolah dari jam delapan hingga jam sebelas. Hanya sebentar bertemu. Itupun hanya sekedar datang dan melihat latihan porseni. Hingga hari perpisahan tiba.

*** **** ***

Ibu sudah menelepon Kak Fandy, katanya ibu besok akan berangkat ke Jakarta. Tiba disini pukul dua siang. Aku akan segera menjemput Ibu di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Tunggu saja Bu..

Sejak pukul satu siang aku sudah berada di Bandara, menunggu Ibu bersama Kak Fathia. Pukul dua siang, sesosok perempuan berkepala empat yang menggunakan jibab hijau muda dan ghamis hijau daun yang juga bercorak dedaunan dengan wajah bening menawan datang dengan membawa bawaan penuh di tangan. “Ibu..” lirihku.

Aku dan Kak Fathia menyambut ibu ramah nan hangat. Oh Ibu..

Aku segera memeluk Ibu erat. “Ibu.. akhirnya Ibu datang juga. Aku kangen.. sama Ibu.” Ku eratkan kembali pelukanku “Bu.. Ibu adalah segalanya buatku.”

Dengan senyum manisnya ia menjawab ucapanku “Kau lebih dari itu anakku. untuk Ibu, kau adalah anugerah terbaik dari semua yang terbaik.”

Sesaat kami terbawa dalam lamunan asing. Setelah itu giliran Kak Fathia menyambut Ibu “Bi, selamat datang kembali di Jakarta. Kota dimana aku dan Kharis menghabiskan waktu bersama.”

“Terimakasih Fathia.. terimakasih pula selama ini kau telah menjaga Kharis dengan teramat baik.”

“Sama-sama Bi.”

Kami bertiga tersenyum lalu kembali pulang ke rumah.

“Fariz.. Tata.. Ayu.. Ibu Kak Kharis sudah datang.” Ujarku.

Fariz, Tata, dan Ayu segera berlarian

“Bibi.. selamat datang Bi.” Ucap mereka serempak.

“Oh, terimakasih. Kalian lucu-lucu ya.. tidak berubah. Seperti dua tahun lalu.” Ibu mencubit Fariz, Tata dan Ayu gemas.

Mereka tertawa. Indah sekali saat ini. Saat dimana semua orang yang kucinta berkumpul bahagia. Tapi, Kak Fandy tak ada. Dan Ayah.. andai Ayah masih ada dan kini akan berkumpul bahagia bersama. Aku tersenyum. Tak apalah, jangan sampai kebahagiaan saat ini hilang karena Ayah dan Kak Fandy tak ada disini.

“Ayo Bu sini barang-barangnya biar Kharis yang masukkin.” Aku menawarkan diri mengankut barang Ibu.

“Iya, terimakasih ya Kharis. Kamu baik sekali.”

“Biasa aja lah Bu!” aku berjalan ke kamarku membawa bawaan ibu yang cukup banyak. Rencananya, nanti ibu akan tidur dikamarku.

Sore hari, Ibu beristirahat. Dan ketika malam menjelang, ibu membuatkan makanan kesukaanku, ayam kecap ala Ibu. Sudah dua tahun aku tidak mencicipi masakan Ibu. Rasanya masakan Kak Fathia kalah deh kalau dibanding masakan buatan Ibu. He.. he.. tapi bukannya aku jadi meremehkan masakan Kak Fathia loh..

“Makanan siap..” ujar ibu.

Semua menyerbu meja makan dan makanan habis seketika. Dan ibu tersenyum bahagia. Dari wajahnya tersirat rona yang berbeda. Itu yang selalu aku lihat ketika masakan ibu yang enak diserbu dan habis. Ibu, ia memang selalu bahagia bila melihat orang-orang bisa bahagia karenanya.

Sebelum tidur aku menulis diary.

Sabtu, 16 Juni 2007

Dear diary,

Hari ini aku senang… sekali. Soalnya ibu sudah datang ke Jakarta. Tadi siang aku dan Kak Fathuia menjemputnya di Bandara. ibu tidak menggunakan kapal laut karena katanya sudah ngga sabar ketemua aku. Ha.. ha.. terus, ibu yang masak makan malam. Ibu buat ayam kecap yang aku suka. Dua tahun ngga cobain ayam kecap, sekarang cobain rasanya ueenak banget. Maksih Bu.. aku sayang sama ibu.

Tak lama kemudian ibu masuk ke kamar dan kami langsung tidur.

Keesokan harinya, aku mengenalkan ibu pada Zena. Zena ku ajak ke rumah. Dan sepertinya ia senang berjumpa dengan ibu. Ibu juga begitu sebaliknya. Aku senang orang-orang di dekatku bisa saling mengenal..

”Ini ibuku.” ucapku menebar senyum. ”Bu, ini namanya Zena. Dia teman baikku..

Zena, ini ibuku...”

”Zena ya? Nama yang cukup bagus.” ibu berkomentar.

”Makasih Tante.. Jadi ini ibunya Kharis? Cantik ya?” Zena ikut berkomentar.

”Makasih juga Zena...”

Kamipun berbincang-bincang panjang lebar. Aku bahagia....

Minggu, 17 Juni 2007

Dear diary,

Tadi aku kenalin ibu sama Zena. Kayaknya mereka senang saling berkenalan. Mereka juga langsung akrab. Sudah lama aku ingin mengenalkan ibu sama Zena. Tapi baru hari ini. Tak apalah, yang penting mereka bisa saling mengenal.

Hari Senin, aku masuk ke sekolah dari jam delapan hingga jam sebelas. Pulang sekolah aku buru-buru meghampiri ibu yang berada si dapur. Kak Fathia belum pulang, jadi karena di rumah ibu tidak ada pekerjaan akhirnya masak deh. Kali ini akupun ikut membantu ibu memasak sayur asem dan tempe goreng. Enak loh...

Tata dan Ayu sudah pulang. Sekarang mereka sedang ulangan umum. Pulang sekolah, mereka hanya belajar. Tidak ada nonton tv dan main game. Ha.. ha... gantian. Waktu aku ujian aku juga tidak boleh nonon tv ataupun main game.

Usai makan, aku masuk kamar. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Diantaranya, menyusun data teman-teman dan mengecek ulang hasil foto yang telah diambil. Itu semu untuk album kenangan sekolahku. Aku masuk dalam panitia pembuatan album kenangan. Zena seharusnya membantuku. Tetapi karena ia ada acara mendadak terpaksa aku mengerjakan sendiri.

Ibu masuk ke kamar, ia lalu memperhatikan piala yang berada diatas mejaku.

”Ris, ini piala kamu ya?”

”Iya dong Bu! Aku lupa kasih tau ibu ya?”

”Yang kamu bilang juara lomba puisi itu bukan?”

”Iya Bu!” aku mengangguk perlahan.”Senang deh Bu!!”

”Oh, jadi kamu juara lomba puisi se-Jakarta ya? Hebat.. anak ibu hebat sekali. Memang kamu kirim puisi apa?”

”Judulnya ’SYUKUR KU’ gitu Bu.”

”Oh.. masih ada puisinya?”

”Masih dong Bu...” aku lalumengambilkan catatan puisiku yang ada diantara selipan buku-buku.

”Wah.. Kharis. Kamu memang hebat ya. Ibu suka puisi kamu. Anak ibu... anak ibu...” Ibu membelaiku manja lalu memeluk erat diriku.

Senin, 18 Juni 2007

Dear diary,

Senang... Bahagia... itu yang dapat aku katakan untuk beberapa hari ini. Ibu, itulah sumber kebahagiaanku kali ini.

Esoknya, aku memberikan pekerjaanku kepada ketua panitia album kenangan. Insya Allah, besok album kenangannya sudah selesai disusun. Tinggal dicetak. Alhamdulillah...

Zena yang melihat hasil kerjaku sendiri kemarin, tersenyum. ”Ris, kamu hebat ya! Bisa selesai.”

”Aku dibantu ibu..”

”Sorry ya! Kemarin itu benar-benar terdesak.”

”Iya, ngga apa-apa. Santai aja.”

Pulang sekolah, aku dapat hadiah dari ibu. Aku dibelikan sebuah handphone yang telah lama aku inginkan. Ada kamera, radio, juga mp3nya. Senang.. sekali. Selama ini aku menabung tapi uangnya belum cukup. Alhamdulillah, ibu memberikanku handphone.

”Makasih Bu!!!!!!! Ibu baik banget. Aku sayang sama ibu.” ucapku ketika menerimanya aku mengecup kening ibu berkali-kali.

”Iya, sama-sama sayang. Nanti, kalau ibu sudah kembali ke Malaysia sering-sering telpon ibu ya? Ingat loh. Nomor ibu sudah di simpan disitu. Jangan dihapus.”

”Oke ?Bos... makassssssssih banget.” aku tersenyum bahagia.

Selasa, 19 Juni 2007

Dear diary,

Tadi aku dikasih handphone loh... ada kamera, radio dan mp3, aku senang.. sekali. Ibu baik banget ya.. Oh iya! Album kenangan sekolahku sudah selesai disusun, tinggal dicetak. Ih...senang.. senang.. senang... besok Zena ulang tahun loh... enaknya kasih apa ya??

Aku bangun pagi, antar koran dan agak berlama-lama dirumah (mumpung masuk jam delapan) eh, tapi aku belum beli kado untuk Zena. Aku mau pura-pura marah dulu ah sama dia, terus malam hari, aku mau kasih kejutan buat dia...

Sepulang sekolah, aku langsung pergi mencari kado untuk Zena. Sendirian... dari pagi aku sengaja menghindari dia. Aku membeli sebuah jam warna hijau karena aku taahu Zena suka warna hijau. Di jam itu juga terdapat tempat untuk menaruh foto. Gambarnya beruang warna coklat. Ku selipkan kartu ucapan juga foto kami berdua. Aku lalu membungkusnya dengan kertas kado warna coklat muda ada gambar balon-balon kecilnya. Semoga Zena menyukainya..

Malam hari aku mengetuk pintu rumah Zena.

”Assalamualaikum...”

”Waalaikumussalam.”

”Ada Zenanya ngga ya?”

”Oh, ada sebantar ya!”

Beberapa saat kemudian, Zena datang dan... ”Sure prize...” ujarku.

”Ya ampun Kharis!”

”Selamat ulang tahu ya!!!!! Semoga, kamu panjang umur, kamu berguna bagi agama, nusa, bangsa, dan negara, tambah rajin, tambah pinter, tambah cantik, tambah manis, tambah baik, tambah seneng traktir aku, tambah semuanya deh. Terus ngga lupain aku..”

”Amien..... eh, masuk sini!”

”Oh, iya maksih..”

”Aku buka ya kadonya?”

”Buka aja. Aku harap kamu suka.”

”AH... hijau! Aku suka banget. Thanks ya Ris. Kamu memang temenku yang paling... baik. Makasih banget ya!”

”Sama-sama.”

Usai berbincang cukup lama, aku pamit pulang. Di rumah, aku bercerita pada ibu, Kak Fathia dan yang lainnya. Mereka juga ikut senang mendengar ceritaku.

Rabu, 20 Juni 2007

Dear diary,

Zena ultah hari ini. Tadi, pulang sekolah aku cari kado buat dia. Dan Alhamdulillah dia suka. Senang ya bisa buat orang lain senang....

Ø TUJUH

Aku berangkat sekolah kali ini bersama Zena. Jam enam lewat, Zena telah menunggu didepan rumahku. Tapi kami baru berangkat jam setengah tujuh. Biasa, aku kan banyak urusan jadi Zena menunggu aku lama. Maaf ya Zen!

Di jalan, kami banyak bercerita. Dan esok kami setuju akan bertukar diary, agar tak ada lagi rahasia diantara kami dan agar kami saling memahami... tapi kami saling berjanji untuk tidak membuka rahasia kepada siapapun. Semoga ini menjadi pertanda bahwa persahabatan kami akan utuh selama-lamanya..

Kamis, 21 Juni 2007

Dear diary,

Tadi pagi aku berangkat bareng sama Zena. Terus besok rencananya kita bakal tuker-tukeran diary. Biar ngga ada rahasia lagi katanya.. tapi kita berdua berjanji akan menyimpan rahasia dalam diary masing-masing dan tidak akan bilang kepada siapapun...

Keesokan harinya, aku dan Zena benar-benar bertukaran diary. Diary Zena berwarna hijau muda dengan gambar bunga disetiap sudut bukunya. Cantik...

Hari ini aku sibuk sekali. Pulang ke rumah, menaruh tas lalu langsung pergi mencari hadiah untuk kenangan guru-guru dan sekolah. Bersama teman-teman tentunya.

Mencari hadiah untuk para guru ternyata agak sulit. Walau sudah lima orang yang pergi mencari kado, tetapi tetap saja kami bingung untuk membeli dan memilihnya. Takut tidak cocok, takut kurang dibutuhkan, jumlahnya tidak cukup dan sebagainya. Tetapi akhirnya kami menemukan hadiah yang tepat. Walau sederhana dan tidak terlalu mahal, tapi dari hati anak-anak SMPN 42 semuanya ikhlas. Insya Allah.

Sesampainya di rumah, aku masuk dengan membawa satu perlima bagian hadiah yang akan diserahkan kepada guru saat porseni nanti. Ya, membawa dan membungkusnya dibagi-bagi. Karena semua guru disekolahku akan diberikan hadiahnya, jumlah gurunya tak kurang dari 65 guru. Banyak sekali bukan???

Masuk ke kamar, aku melihat ibu sedang duduk di tempat belajarku, ia seperti sedang membaca sesuatu.

”Ibu lagi baca apa Bu?” ujarku seraya memandang yang dibaca oleh ibu yang ternyata adalah diary Zena.

Aku marah dan kesal. Kenapa ibu membaca sesuatu yang seharusnya tidak ibu baca? Kenapa ibu seenaknya saja membaca tanpa sepengetahuanku? Kenapa ibu mengambil sesuatu didalam tasku juga tanpa sepengetahuanku? ”Ibu, itu kan diary temanku... Kok ibu baca?” aku memandang ibu dengan pandangan kesal dan suara membentak..

”Ibu.. ibu... ibu..” ibu berusaha menjelaskan.

”Kenapa Bu? Aku sudah janji sama temanku untuk ngga kasih ini ke siapapun... tapi kenapa ibu main baca-baca aja? Ibu jahat... aku ngga mau kepercayaan temanku kepada aku jadi hilang hanya karena ibu membaca diary nya... walaupun ia ngga tahu, tapi kan Allah tahu. Dan aku juga ngga mau jadi orang yang tidak bisa menjaga rahasia. Kenapa Bu? Kenapa? Akupun belum membaca diary dia... tapi malah ibu yang membaca diary nya duluan. Ibu boleh baca diary aku, tapi jangan temanku. Aku takut Bu.. aku takut kalau semuanya jadi berantakan!!!!!!!!!” aku menangis dan membentak ibu.

”Tapi ibu ngga sengaja Kharis?”

”Ngga sengaja? Jelas-jelas ibu tadi sedang membaca diary temanku dengan serius. Apa itu yang namanya tidak sengaja? Ibu jahat ya...”

”Kharis, maafkan Ibu. Demi Allah.. Ibu ngga bemaksud menyakiti kamu Kharis.”

”Tapi aku ngga mau! Ibu selalu bilang kalau kita harus izin dahulu jika ingin meminjam sesatu. Tapi apa? Itu bukan punyaku. Ada aku punya janji yang harus ditepati Bu....” aku menghela nafas. ”Bagi aku dan Zena, diary itu adalah sesuatu yang amat rahasia dan tidak boleh ada yang membacanya. Aku sengaja menyimpan di tas. Agar tidak dibaca. Tapi kenapa ibu membuka tasku? Kenapa Bu???”

”Sekali lagi ibu minta maaf Kharis. Tolonglah. Kamu jangan marah-marah sama ibu. Lagipula ibu tidak sengaja..”

”Aku ingin sendiri Bu.. Ibu bisa keluar???”

Ibu lalu keluar kamarku dan aku mengunci kamar dengan rapat. Di dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya. Aku dibayangi rasa takut. Aku takut dijauhi Zena dan teman-temanku karena tidak bisa menjaga rahasia.Kenapa? Kenapa?

Aku ingin menumpahkan segala rasa ini dalam diary, tapi diaryku ada di Zena. Masih dalam keadaan tersedu-sedu aku mulai membaca diary Zena.

Ternyata, dulu sewaktu kecil, Zena tinggal di Surabaya lalu pindah ke Jakarta bersama neneknya. Ia lalu pindah rumah. Neneknya ditinggal dan hanya diberkian tiap bulan. Tetapi kira-kira enam tahun belakangan ini neneknya tidak pernah lagi dikirim uang apalagi dijenguk. Itu semua karena orang tua Zena sangat sibuk. Aku membaca itu pada halaman pertama sampai halaman keempat diary Zena tentang kisah hidupnya.

Aku membalik halaman selanjutnya dan seterusnya. Disana aku menemukan tentang perasaannya ketika harus pindah dari Surabaya ke Jakarta. Tentang orang tuanya yang selalu kerja setiap hari dari pagi hingga malam dan membuatnya merindukan sosok mama dan papanya. Tentang teman-temannya yang selalu baik terhadapnya. Tentang sikap bijaksananya. Tentang orang yang dikaguminya. Tentang perasaannya ketika bertemu denganku yang tak lain adalah senang. Tentang sedikit permasalahan antara dia, mamanya, papanya, juga keluarganya. Tentang orang yang ia sukai saat ini. Dan semuanya tercurah dalam sebuah buku diary. Sama sepertiku.

Sedetik kemudian aku teringat tentang ibu yang seenaknya membaca diary Zena. Aku masih marah dan tetap mengunci kamar. Beberapa kali aku keluar kamar tapi hanya untu ke kamar kecil dan sholat. Hari itu aku marah dan sengaja tidak makan untuk menunjukkan kekesalanku.

Aku merasa bersalah pada Zena karena tidak bisa menjaga rahasianya. Apa aku harus bilang padanya? Ataukah aku simpan ini sendiri? Bila aku jujur padanya, aku takut ia akan marah dan membenciku. Tapi bila tidak jujur, aku takut dibayangi rasa bersalah dan berdosa. Karena bagiku rahasia itu adalah suatu hal yang besar walau kata-katanya kecil.

Tapi, apa aku salah pada ibu ya? Apa harus aku marah dan membentak-bentak ibu? Muncul sedikit perasaan bersalahku pada ibu. Apa aku buat ibu sakit hati ya? Aku bingung... Tunjukkan padaku Ya Allah jalan yang terbaik bagiku..

Pagi hari, aku hanya diam saja, tidak bekata sedikitpun. Aku masih bingung. Apa aku harus bilang ini pada Zena? Apa aku harus minta maaf pada ibu?

Akhirnya setelah dipikiran matang-matang, aku memberanikan diri memberitahu Zena. Aku lalu pergi ke rumahnya.

”Assalamualaikum...”

”Waalaikumussalam..”

”Eh, Kharis, ayo masuk!”

”Iya makasih. Zen, aku sudah selesai baca diary kamu.”

”Aku juga. Ternyata kamu itu anaknya gigih ya Ris, ngga gampang ngeluh, baik hati, ikhlas,..”

”Stop Zen.. sebenarnya masuk kedatanganku kesini, aku ingin minta maaf sama kamu.”

”Minta maaf? Memang apa salah kamu?”

”Aku minta maaf.. aku minta maaf.. aku minta maaf..”

”Kenapa sih Ris? Sudah, ngomong aja.”

”Aku minta maaf karena aku ngga bisa nepatin janji.”

”Janji apa?”

”Janji untuk menjaga rahasia. Menjaga diary kamu. Diary kamu dibaca sama ibuku.” fikiranku kalang kabut. Aku bingung harus bagaimana. Akupun takut. Aku tak tak tahu bagaimana Zena nantinya. Aku juga tak tahu apakah aku siap kehilangan Zena atau tidak. Aku tak berani menatap Zena.

”Kok bisa?”

”Aku ngga tahu.. aku taruh diary kau didalam tasku. Tapi ibuku tiba-tiba baca. Maafin aku.. maafin aku.. aku ngga tahu kenapa diary kamu bisa dibaca ibuku. Aku siap diapain aja sama kamu. Aku siap kalau kamu marah sama aku. Tapi aku ngga siap kalau kamu benci sama aku. Aku emang salah Zen. Tapi ini semua salah ibuku semua karena ibuku. Semua gara-gara ibuku. Maafin aku ya Zen..” aku menangis di depan Zena seraya tertunduk bersalah.

”Jadi kamu marahan sama ibu kamu?”

”Iya Zen. Ibuku yang salah. Ibuku yang buat semua jadi begini. Aku ngga mau lagi bicara sama ibu. Aku ngga suka sama ibuku.”

”Ris, bagiku diary adalah tempat curahan isi hatiku yang sesungguhnya. Dimana aku benar-benar menceritakan sedetil-detilnya yang aku alami. Tapi aku mau sahabatku tahu tentang diriku. Memang, aku agak kecewa. Tapi, walau begitu, kamu tidak boleh marah sama ibu kamu. Mungkin, ada sedikit salah paham antara kamu dan ibu kamu. Mungkin, kamu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, janganlah kamu marah sama ibu kamu.

Ris, ibu kamu datang jauh-jauh dari Malaysia, hanya ingin melihat kamu, hanya ingin memeluk kamu, hanya ingin kamu ada disampingnya dan bermanja-manja. Apa kamu tak sadar hal itu Kharis? Ibu kamu itu sayang sama kamu.. Minta maaf Kharis.. minta maaf itu mulia Kharis. Ingat itu.. Kamu yang waktu itu yang bilang supaya aku minta maaf sama mamaku kan? Kamu yang waktu itu maksa aku kan? Iya kan kan Kharis? Sekarang kamu tersenyum. Tatap mataku dalam-dalam. Aku ngga akan marah sama kamu. Tapi aku minta sama kamu satu hal. Minta maaf sama ibu kamu. Aku ngga mau jadi orang yang membuat kehidupan kamu dan ibu kamu berantakan..” Zena menghapus air mataku.

”Zen, aku salah sama ibuku ya? Tadinya aku takut kalau kamu marah sama aku. Aku takut kamu ngga percaya lagi sama aku. Tapi ternyata aku salah. Aku salah karena menganggap kamu seperti itu. Kamu memang sahabatku. Kamu memang sahabatku yang sesungguhnhya.” ucapku lirih.

”Aku akan jadi sahabat kamu Kharis.. selamanya.”

”Makasih Zen!! Eh, Zen! Nanti bantu aku bungkus kado buat guru-guru yuk!”

”Kapan? Aku sih, siap selalu...”

Aku lalu pamit pulang dan bersegera menuju ke rumah diary kami lalu juga masing-masing dikembaliakan.

”Ibu.. Ibu..” aku memanggil ibu yang ternyata ada di dapur.

Ibu yang kupanggil tak menjawab sedikitpun. Ia hanya menengok sedikit lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.

”Bu, aku salah. Bu, jangan marah lagi sama aku. Bu, maafin aku! Aku salah. Aku benar-benar salah. Aku marah-marah sama ibu.. aku sudah jahat sama ibu. Ibu jauh-jauh dari Malaysia, aku malah jahat sama ibu!”

Ibuku tak juga menatap apalagi menjawab. Aku kembali melirih ”Please Bu! Maafin aku! Aku salah Bu! Kenapa aku harus marah-marah sama ibu? Maafin aku!!! Maafin aku!!!” air mataku menetes. “Bu, jawab Bu! Jawab! Ibu maafin aku kan? Ibu maafin aku kan?”

”Kharis, mana ada ibu yang tega melihat anakanya menagis di depannya hanya untuk meminta maaf apalagi itu salah ibunya. Ibu juga minta maaf ya sayang. Ibu memang salah sudah baca diary teman kamu sembarangan. Tadinya ibu cuma mau pinjam pulpen kamu. Tapi buku diary itu terbawa dan jatuh. Ibu Cuma mau baca luarnya saja. Terus kamu datang. Ibu salah ya? Maafin ibu ya!”

”Ngga! Ibu ngga salah. Ibu jangan minta maaf sama aku. Aku yang salah. Aku yang udah main tuduh ibu seenaknya. Aku minta maaf Bu! Maaf! Cuma itu yang bisa aku bilang..” Beberapa saat lamanya aku dan ibu berpelukan.

”Bu, aku janji ngga bakal nyakitin ibu lagi. Aku ngga mau buat ibu nangis. Buat ibu sedih.. waktu itu aku pernah janji ngga mau nyakitin ibu. Tapi kemarin aku buat ibu sedih. Maafin aku. Mafin aku.”

”Makasih sayang.. kamu tahu? Kamu itu harta ibu yang paling berharga. Lebih berharga dari semua yang ibu punya. Ibu takut kehilangan kamu nak! Kehilangan kamu yang selalu ceria, selalu buat ibu tertawa, selalu buat suasana jadi hangat dan nyaman, kamu yang polos, kamu yang suka bandel kalau dikasih tahu sama ibu...”

”Aku juga sayang sama ibu. Makasih Bu!”

Ibu mengecup keningku akupun juga mengecup keningnya.

Sabtu, 23 Juni 2007

Dear diary,

Kemarin kan aku tukar diary sama Zena. Terus diarynya dibaca sama ibu. Saat itu aku marah sekali. Aku ngga tahu gimana jadinya kalau Zena tau aku ngga bisa jaga rahasia. Aku takut kalau dia bakal marah sama aku. Aku kalap dan aku marah-marah sama ibu. Akubentak-benatak ibu. Aku jahat banget ya? Ya Allah, maafin aku!

Tadi pagi, aku ke rumah Zena dan aku cerita semuanya. Kupikir, dia akan marah seperti apa yang aku bayangkan. Tapi ternyata engga. Dia malah ngasih saran ke aku biar aku minta maaf sama ibu. Aku kaget dan pulang dari rumah Zena aku segera minta maaf sama ibu. Aku sudah jahat banget sama ibu. Maafin aku. Tapi untungnya ibu maafin aku. Dan ternyata perkiraanku tentang buku diary Zena yang dibaca salah. Ibu ngga baca. Diary Zena jatuh waktu ibu mau pinjam pulpen. Ya Allah!!! Aku janji lagi. Aku ngga boleh buat ibu sakit lagi. Karena aku sayang ibu.

Ø DELAPAN

Esok harinya, ibu mengajak aku, Kak Fathia , Ayu, Tata dan Fariz ke Dunia Fantasi alias Dufan. Kak Fandy ada pekerjaan, jadi tidak bisa ikut. Kak Fandy memang sibuk. Jadi setiap ada acara Kak Fandy jarang ikut.

Ibu membiayai sebagian uang masuknya, sementara sebagian lainnya kami kumpulkan uang tabungan masing-masing. Kami berangkat tepat pukul sembilan pagi. Naik busway. Seru juga sih...

Masuk kedalam Dufan, aku dan Kak Fathia langsung tertarik naik halilintar. Sudah lama aku tidak kesini, terakhir kali aku kesini, umurku masih lima tahun. Dan, saat itu aku ingin sekali naik halilintar. Tetapi tidak dibolehkan oleh ibu.

Sekarang gilirannya.. antri halilintar cukup panjang. Kira-kira 15-20 menit aku menunggu, tidak jadi masalah. Saat giliranku tiba, aku sedikit ragu dan takut, taetapi karena rasa penasaranku yang kuat, akhirnya aku memberanikan diri.

”Aaaaaaaaaaa....” aku berteriak ketika halilintar mulai melaju. Naik keatas, turun tiba-tiba dan berputar ”Aaaaaaa...” seru, walaupun menegangkan. Kepalaku masih terasa diputar. Kalau ada waktu, aku mau coba naik halilintar lagi..

Usai naik halilintar, aku mencoba ke arena perang bintang. Jadi, disana kita ditugaskan menembak cahaya laser kecil berwarna merah. Haha.. aku tertawa puas ketika mendapatkan poin paling tinggi dibanding yang lainnya.

Selanjutnya aku tertarik lagi pada permainan arung jeram. Antriannya cukup ekstrim. Panjang..... sekali. Kira-kira satu jam aku mengantri. Tapi ketika giliranku tiba, seakan rasa lelahku hilang. Aku, ibu, Kak Kharis, Ayu, Tata dan Fariz serta beberapa orang naik ke atas arung jeram itu. Arung jeram yang berbentuk bulat dan berisi delapan orang itu mulai melaju. Menabrak tembok-tembok yang berada di kanan dan kiri arung jeram. Badanku terdorong kesana-sini, bajuku juga basah karena air menciprat disana-sini. Haha.. bajuku basah semua

Beberapa permainan lainnya aku coba seperti ontang-anting, bom-bom car, bianglala, niagara dan poci-poci. Sebenarnya aku masih ingin mecoba permainan lainnya. Tetapi, karena waktu yang cepat sekali berjalan itu sudah menjelang malam, akhirnya kami pulang.

Minggu, 24 Juni 2007

Dear diary,

Aku ke Dufan hari ini. Seru deh! Sama ibu, Kak Fathia, Ayu, Tata dan Fariz. Aku naik halilintar, niagara, ontang-anting, bianglala, poci-poci. Aku juga main perang bintang tadi. Alhamdulillah, aku bersyukur Allah memberikanku nikmat bersenang-senang. Terimakasih Ya Allah, terimakasih juga ibu.. Terimakasih untuk semua orang yang kucintai..

Hari ini hari Senin. Porseni diadakan hari ini. Adik-adik kelasku maju satu per satu menampilkan berbagai keahlian mereka seperti menyanyi, menari, bermain drama dan lain sebagainya. Mereka memang punya bakat yang sangat bagus dan harus dikembangkan. Aku bangga pada mereka. Selain itu, hadiah untuk para guru juga kami berikan hari ini. Guru-guru mengucapkan terimakasih pada kami.

Senin, 25 Juni 2007

Dear diary,

Tadi di sekolah, ada porseni. Seru juga.. bagus-bagus deh. Sayang sekarang aku sudah ngga di SMP lagi ya? Semoga di SMU nanti aku bisa ikut porseni dan menunjukkan yang terbaik. Amien.. tadi, hadiah untuk guru sudah diberikan, mereka mengucapkan terimakasih pada kami.

Siang hari, aku tidak ada pekerjaan. Aku lalu ke warung Nek Mariyem. Aku ingin melihat warung Nek Mariem setelah sebulan aku tidak mengatur segala yang ada disana. Disana Lela menjaga warung dengan teramat ramah. Ia juga dapat dipercaya. Alhamdulillah, ini berkat Zena..

”Hai Mbak Lela! Gimana kabarnya? Gimana warungnya? Dua bulan aku ngga kesini loh..” sapaku.

”Oh, baik-baik saja Kharis! Tetapi akhir-akhir ini warungnya agak sepi. Ndak tahu kenapa. Tapi semoga awal bulan nanti kembali ramai.” jawab Lela dengan logat jawanya.

”Oh.. penghasilan bulan ini berapa Mbak?”

”Ya, belum dihitung semua sih Kharis. Tapi besok mbak hitung deh. Sekalian belanja, persediaan barang-barangnya sudah tinggal sedikit.”

”Oh.. mbak! Maaf ya dua bulan ini aku ngga muncul-muncul.. aku ujian, terus ibuku datang dari Malaysia. Jadi kelupaan deh. Maaf ya!”

”Ndak papa Kharis. Ndak masalah kok! Mbak bisa atur ini kok!”

”Makasih Mbak..”

”Sama-sama.”

Selagi kami bercakap-cakap, datang seorang anak kira-kira seusiaku dan adiknya yang kira-kira seusia Tata. Mereka berbaju yang bercorak yang menrutku jadul alias jaman dulu. Mereka seperti orang pedesaan. Mereka berdua lalu menghampiri aku dan Mbak Lela.

”Permisi Mbak! Apa ini warungnya Nek Mariyem?”

”Iya Benar! Ada apa ya?”

”Oh.. berarti benar Dek!” bisik sang kakak pada adiknya.

”Ada apa ya?”

Beberapa saat kemudian seorang ibu dan bapak datang disusul seorang nenek yang tidak aku sangka sebelumnya. Yang ternyata adalah Nek Mariyem.

”Nnnn... Nek Mariyem......” ucapku tak mengerti.

”Kharis??”

”Nek Mariyem.. Nek Mariyem kesini Nek??”

”Iya Kharis.. Nenek mengajak anak dan cucu Nenek sekarang!”

”Nek, masuk dulu Nek!! Sini barang-barangnya aku bawain.”

”Iya Kharis..”

”Eh, iya Nek! Sampai lupa.. ini Mbak Lela. Yang bantu aku jaga warung Nenek..”

”Lela Nek!” mereka bersalaman.

”Nek Mariyem.. makasih loh, sudah bantu jaga warung Nenek.”

”Sama-sama Nek.” ucap Mbak Lela.

”Ini anak Nenek Kharis, Parto namanya. Ini istrinya, Sasa. Dan ini kedua cucu Nenek. Wangi dan Bayu. Cucu Nenek yang waktu itu Nenek ceritakan..”

”Kharis..” aku menyalami mereka satu per satu.

Di dalam rumah Nek Mariyem, Nenek bercerita tentang perjalanannya ke Surabaya dan akhirnya bertemu dengan anaknya. Aku menangis haru. Tak aku sangka aku bertemu Nek Mariyem lagi, bersama anak dan cucunya lagi.

Selasa, 26 Juni 2007

Dear diary,

Siang-siang aku ke warung Nek Mariyem dan tidak aku sangka sama sekali, Nek Mariyem datang.. Wow! Aku terkejut sekali. Apalagi Nek Mariyem bawa anak dan cucunya. Aku bisa kenalan dan punya teman lagi. Jadi ingat waktu pertama bertemu Zena, kan di warung Nek Mariyem juga..

Esoknya aku mengenalkan ibu pada Nek Mariyem. Walau mungkin ini pertama kalinya mereka bertemu, tapi ibu dan Nek Mariyem terlihat akrab sekali. Entahlah, mungkin seperti aku dan Zena kali ya...

Rabu, 27 Juni 2007

Dear diary,

Tadi aku kenalin ibu sama Nek Mariyem. Mereka akrab deh.. senang ya!

Di sekolah, aku bercerita tentang Nek Mariyem pada Zena. Ia pun ingin berkenalan dengan Nek Mariyem. Tapi, entah mengapa ia tak berkutik ataupun menanggapi ucapanku.

”...seneng deh ibu dan Nek Mariyem berkenalan.”

”Oh.. begitu ya?” ucapnya datar dengan ekspesi yang biasanya.

”Kamu kenapa Zen?”

”Ris..” air mata Zena metes dan suaranya menggema dengan nada tertekan. ”Ris.. aku takut! Aku takut Ris...”

”Ya, kamu kenapa Zen jawab dong, jawab..”

”Ris!! Orang tuaku berantem... berantem... terus dan aku takut. Aku juga dengar, mereka juga sempat bilang cerai gitu. Cerai Ris..” ia menangis di pelukanku.

”Kok bisa Zen? Kenapa?”

”Aku ngga tahu. Aku takut! Aku coba tahan sendiri dan simpan sendiri rasa takutku di setiap pertengkaran orang tuaku. Tapi kali ini aku ngga bisa! Aku ngga bisa Ris.. Cerai bukanlah kata yang sepele. Itu kata yang rumit dan dapat diartikan dengan berbagai arti. Aku ngga mau mereka cerai Ris.. aku ngga mau!!!!!!!!!” ia tersedak-sedak bercerita. Sedih melihat keadaan sahabatku seperti ini.

“Zen, kamu tenang dulu. Kamu jangan panik. Keluarkan saja semua unek-unek yang kamu rasakan. Aku sedih melihat kamu sedih Zen.”

”Ris, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa. Mama dan papaku melarang aku bercerita pada siapapun. Aku ngga ngerti kenapa mereka begitu. Akupun ngga tahu kenapa semua jadi begini. Ris, mereka egois! Mereka ngga pernah memikirkan aku.. mereka sibuk diluar.. mereka sibuk dengan urusannya... tapi kenapa tiba-tiba semua jadi begini Ris???”

”Zen! Kamu harus tawakal! Serahkan semua pada Allah, tuhan kita. Karena hanya Allah yang punya segalanya. Karena Allah yang berkehendak. Karena Allah yang bisa mengubah apapun yang terjadi. Percaya padaku.”

”Aku akan coba..” Zena diam sesaat ”Ris.. aku ngga bisa! Bayangan perceraian orang tuaku menghalangiku.. membuat diriku menjerit.. aku takut..”

”Zena tenang! Tenang Zena.. coba kamu istighfar. Sebut nama Allah.. ’Astaghfirullahhal adzim..’ ikuti aku Zen!”

”Astaghfirullahhal adzim.. maafin aku Ya Allah!”

”Zena! Kamu tadi dikuasai emosi. Janganlah kamu berteriak ataupun meraung-raung. Itu tak akan menyelesaikan masalah. Kita tidak bisa berbuat apapun. Orang tua kita punya alasan untuk itu. Kita hanya bisa berserah kepada Allah agar diberi jalan yang terbaik. Percayalah padaku Zen..”

”Maafin aku Ris. Maafin aku! Aku ngga bisa nguasain diriku. Aku cuma takut aja kalau sesuatu yang buruk itu terjadi. Ya Allah.. berikanlah jalan yang terbaik bagiku.. aku tak mau orang tuaku bercerai ya Allah. Selama ini aku hanya protes ketika mama dan papa pulang malam. Tapi sungguh ya Allah.. itu lebih baik dibanding mereka bercerai.”

”Ya sudahlah Zen.. kamu sabar saja. Aku cuma bisa bantu kamu kayak gini. Kamu anak yang tabah. Aku percaya kamu bisa melewati semua ini dengan mudah Zen..”

”Makasih Ris, kamu memang sahabat yang baik!” aku tersenyum.dan Zena menghapus air matanya.

”Jangan sedih lagi dong Zen!”

“Ya iyalah.. oh iya! Gimana? Nek Mariyem itu yang punya warung tempat kamu jualan kan?”

”Iya..”

”Jadi ibuku dan Nek Mariyem akrab banget loh..”

”Kayak kita dong. Ha.. ha..”

**** **** ****

Ponselku berdering tanda pesan masuk. Dengan segera aku membuka pesan yang masuk. Dari Zena.

’Ris, kamu bisa ke rumahku sekarang ngga?’

Aku jawab pesannya. ‘Ada apa?’

Ia jawab lagi ’Cepat ke rumahku. Aku tunggu ya..’

”Nie orang aneh banget ya?” aku bergumam.

Dengan segera aku menuju rumah Zena.

”Tok.. tok..” aku mengetuk pintu rumah Zena.

”Kharis.. bisa bantuin aku siapin pesta buat nanti malam?”

“Memang ada acara apa?”

“Pesta buat kakakku yang ulang tahun..”

”Kok mendadak?”

”Iya, kakakku emang gitu.”

”Aku disuruh buat hiasan di pinggir-pinggir sana Ris. Kira-kira buat apa ya?”

”Yang kayak rantai saja. Nanti ditempel disana.”

”Iya.. benar! Pintar kau Ris. Haha..”

Kami berdua lalu membuat kertas warna yang disusun seperti rantai. Ya, sederhana tapi menarik. Kira-kira lima menit kemudian Zena lupa kalau dia ditugaskan membeli bahan-bahan untuk buat nasi kuning.

Kami berdua lalu pergi ke warung Nek Mariyem.

”Beras, kunyit sedikit, penyedap rasa, ......”

”Apa lagi ya?”

”Telur Zen!”

”Oh, iya!”

”Ris, telurnya habis. Tapi sedang di pesan. Setengah jam lagi mungkin sampai.” ujar Nek Mariyem yang saat itu sedang disana.

”Oh, gitu ya. Kalau gitu aku pesan tiga kilo telurnya ya. Kalau bisa, telurnya bawain ke rumah aku yang pagarnya putih. Maaf ya Nek, bukannya aku ngga sopan. Tapi aku terpaksa. Soalnya aku sedang repot Nek..”

”Ngga papa kok! Nanti Nenek bawain ke rumah yang pagarnya putih kan?”

”Iya Nek! Makasih ya!!”

”Sama-sama. Secepatnya Nenek akan bawakan.”

”Aduh.. makasih banget Nek! Maaf jadi ngerepotin.”

”Ngga masalah kok!”

”Ini uangnya..”

”Makasih.”

”Sama-sama.”

”Kok jadi diulang-ulang sih Zen?” aku bosan melihat mereka mengulang kata-kata yang sama.

”Kami pamit Nek.”

Aku dan Zena lalu melanjutkan pekerjaan membuat hiasan di tembok. Sepuluh menit kemudian, kedua orang tua Zena datang. Mereka datang dan saling membentak.

”Kamu ini bagaimana? Mengurus itu saja tidak bisa! Dasar..” Papa Zena membentak.

”Mas yang kenapa? Kenapa Mas selalu saja menganggapku salah? Padahal semua ini terjadi kan juga gara-gara Mas! Coba Mas mengikuti saranku. Semua tidak akan jadi begini..” Mama Zena tak kalah membentak.

”Tapi, kalau saya harus mengikuti saranmu, perusahaan bisa rugi besar! Jangan kamu merasa paling benar! Kamu yang salah..”

”Papa yang salah..”

”Jadi kamu maunya apa?”

”Aku ngga tahan lagi hidup begini. Semuanya salah.. salah.. dan salah.. aku capek!!!”

Zena berteriak. “Aaaaaaa.” ia berlari ke kamar dan aku mengikuti di belakangnya..

“Zen, kamu tenang ya! Sabar..”

”Ris.. ini datang lagi! Semua kembali lagi.. aku takut.. aku takut..

”Zen, tenang Zen! Tenang!”

”Kenapa insan yang berkata saling mencintai harus jadi begini? Egois.. semuanya egois.. tak ada yang mau mengalah ataupun merasa bersalah. Semuanya pastipunya kekurangan. Karena orang tuaku manusia. Tapi kenapa?? Kenapa? Kenapa?” Zena menangis.

”Zen, aku tahu.. sulit bagi kita untuk menerima kenyataan mendapatkan orang tua yang ingin bercerai. Ada luka dihati kita jika itu sampai terjadi. Tergores dalam... sekali. Tapi semua bisa diperbaiki dengan kita mengajak berbicara orang tua dengan baik-baik.”

”Sudah.. itu sudah ku coba. Tapi tetap saja semuanya begini!!!!”

“Ya, tawakal. Serahkan pada Allah.”

”Itu yang kemarin kamu bilang. Aku sudah coba. Tetap, semua tetap begini..”

“Maafkan aku Zen! Aku memang bukan sahabat yang baik. Aku tak bisa bantu kamu selain ini. Aku tak ingin mencampuri urusan keluargamu. Biarlah semua berjalan seperti air yang mengalir. Sekali lagi aku minta maaf.” kali ini aku yang menangis.

”Maafin aku Ris. Aku salah karena menganggapmu salah. Aku salah karena terlalu egois. Aku sama seperti papa dan mama. Maaf Ris.”

”Jangan bilang hanya kamu yang salah. Akupun salah. Jadi, mau bagaimana lagi?”

“Ya, aku hanya berharap dan tawakal pada Allah.”

”Tok.. tok..” pintu rumah Zena di ketuk.

Ternyata yang datang Nek Mariyem membawa telur tiga kilo. Dari kejauhan aku melihat, papa Zena membuka pintu. Dengan lembut Nek Mariyem berkata ”Ini telur pesanannya. Terimakasih.”

Papa Zena mengamati wajah Nek Mariyem dan, ia seakan tersergap dan.. ”Ibu.. Bu.. ini Ibu kan?”

”Marno... menantuku?”

”Iya Bu! Ini Marno! Marno Bu!!!!”

“Marno!!” Untuk beberapa saat mereka berpelukan, senyum menghiasi wajah mereka masing-masing.

”Ma.. mama..” Papa Zena memanggil istrinya.

“Ada apa sih Pa? Apa lagi Pa??”

“Ibu Ma.. Ibu.. ini ibu kita. Ibu yang waktu itu kita lupakan. Rupanya ia berada disini Ma!”

“Ibu?”

“Kasih.....” suara rindu tersirat dari semua wajah yang ada.

”Ibu maafkan kami Bu! Kami sudah durhaka sama Ibu.. kami sudah meninggalkan ibu tanpa sebab. Kami kira, ibu pulang ke Surabaya. Tapi ternyata ibu masih disini. Ibu dapat uang dari mana Bu?”

”Ibu jualan. Itu warung Ibu. Kalau kalian mau beli sesuatu, belilah di warung Ibu..”

”Ibu.. maaf! Kami benar-benar minta maaf. Anak macam apa kami ini? Kami terlalu sibuk. Hingga kami lupa pada Ibu. Aku tidak tega melihat keadaan ibu saat ini.. Maafkan kami Bu..” Mama dan Papa Zena bersamaan meminta maaf.

”Sudahlah Nak! Tidak apa-apa. Seminggu yang lalu, Ibu masih di Surabaya. Bulan Februari ibu pergi ke Surabaya sendirian. Berharap kamu dan adikmu ada di sana.ternyata tidak.”

”Justru sebaliknya. Bulan Februari kami pindah ke Jakarta berharap bertemu dengan Ibu, tapi ternyata Ibu ada di Surabaya. Kami lihat rumah yang dulu kita tempati sudah kosong. Harapan kami putus untuk bertemu Ibu. Masya Allah.. ini benar-benar diluar dugaan..” jelas papa Zena.

”Aisha, Faisal, Zena, Dhea, Shopia.. kesini Nak..” panggil Mama Zena.

“Ini Nenek kalian.. Nenek kandung kalian.”

“Apa Ma? Nek Mariyem itu nenek kandungku?”

”Iya..”

”Nek.. aku cucu Nenek?? Aku yang dulu sering Nenek pangku, cium dan peluk? Benar ini Nenek?” ujar Zena tak mengerti. Terlebih aku.

”Iya sayang..”

”Eh, ada Kharis.. ” ucap Nenek ketika melihatku.

”Iya Nek.”

Nek Mariyem lalu berbicara ”Ini loh Kharis.. yang selalu bantu Nenek jaga warung. Dia anak yang baik..”

”Kharis ya? Makasih loh Kharis sudah bantu Nenek. Kamu temannya Zena?” tanya Mama Zena.

”Iya Ma! Saking sibuknya berantem, Mama ngga sadar kan kalau ada tamu ya? Dia bukan cuma teman aku Ma! Tapi dia juga sahabat aku. Mama sibuk dan ngga pernah tahu segala hal tentang aku.” ucap Zena. Tak aku sangka ia akan berkata seperti itu.

”Maaf Nak! Maaf kamu tidak mama perhatikan. Tapi mama bekerja hanya untuk kamu sayang..”

”Nenek?” ujar Kak Aisha, dan Kak Faisal bersamaan. Disusul Dhea dan Shopia.

”Iya, ini Nenek sayang... sekarang kalian peluk Nenek! Nenek rindu pada kalian semua.”

”Oh, iya Kasih, kakakmu Parto sekarang ada di Jakarta. Dia tinggal bersama Ibu sekarang. Sekarang, mereka ada di rumah..”

”Insya Allah nanti kami kesana. Dan akan kami ajak ibu, Mas Parto dan anak-anaknya tinggal disini.”

Usai berbincang-bincang, aku pamit pulang dan nanti malam ke pesta ulang tahun Kak Aisha. Aku dapat hikmah hari ini..

Jum’at 29 Juni 2007

Dear diary,

Aku sedih ngelihat Zena sedih karena orang tuanya berantem dan bilang mau cerai. Akhirnya aku hibur dia.. dan ternyata dan tidak aku duga-duga Nek Mariyem adalah nenek kandungnya Zena. Pertengkaran orang tua Zena berakhir. Ini semua berkat tawakal kepada Allah.. Alhamdulillah,... aku bahagia melihat mereka bahagia. Nek Mariyem dan Zena. Malamnya, ada pesta ulang tahun di rumah Zena. Aku ikut datang dan makan kue..

Ø SEMBILAN

Pagi-pagi, aku bersiap menuju sekolah. Menuju hari terakhirku menggunakan seragam SMP. Di sekolah, aku hanya ambil hasil ujian. Semoga bagus. Dan aku mau ibu bangga sama aku dan bilang ’Anak ibu hebat ya’. Berharap.. berharap...

Sebelum berangkat, ibu masak ayam kecap, sama seperti waktu pertama ibu ke Jakarta dulu. Yang jelas enak sekali. Aku yakin itu. Aku, ibu, Kak Fathia, Kak Fandy, Ayu, Tata, dan Fariz makan bersama. Tidak di meja makan karena kursinya tidak cukup jadi, kami menggelar tikar untuk makan bersama.

”Mmm.. enaknya!” aku memuji.

”Iya benar Kak! Masakan Bibi enak!!!” Tata menambahkan.

”Makasih..” ucap ibu tersenyum.

Selagi kami menikmati makanan yang sangat sedap ini, tiba-tiba ibu terbatuk. Tak hanya sekali, tapi berulang kali. ”Uhuk.. uhuk..” Dengan segera ibu berlari ke kamar mandi. Aku sempat kahawatir bila terjadi sesuatu dan aku menghampiri ibu yang seperti sedang muntah di kamar mandi.”Ibu kenapa?”

”Ngga papa kok Ris! Ibu Cuma tadi keselek.”

”Bener Bu?”

”Iya! Oh iya Kharis, kamu hari ini pembagian nilai ujian kamu kan?”

”He.. iya Bu! Semoga semua nilainya dapat bagus ya Bu! Doakan aku..”

”Doa ibu menyertaimu selalu.”

”Oke Bu.. makasih untuk doanya.”

Di sekolah, teman-temanku menghampiriku. Aku diberikan kado perpisahan oleh Amel, Denia, Shachya dan Reza. Kado dari Zena, sudah ku terima kemarin.. Alhamdulillah teman-temanku perhatian padaku. Zena juga bilang padaku bahwa orang tuanya tidak jadi bercerai. Orang tua Zena tidak mau membuat Nek Mariyem sakit karena melihat mereka bercerai. Hal ini disembunyikan oleh Zena pada Nek Mariyem. Alhamdulillah, aku turut bersyukur melihat semuanya berakhir bahagia.

Giliran aku mengambil hasil nilai tiba. Map berwarna biru berlambang SMPN 42 telah aku terima berikut hasil-hasil nilai ujianku. Hatiku berdebar sebelum membuka map itu. Bagaimana nilaiku? Apakah bagus ataukah jelek? Perlahan tapi pasti aku mulai membuka ujung map diikuti mengambil ijazah dan daftar nilaiku.

Dan ternyata,....

”Alhamdulillah.... aku dapat nilai bagus. Nilai UNku tak kurang dari 29. Dan, aku bisa masuk SMUN yang aku inginkan. ”Alhambulillah..” aku bahagia. Semua berkat dari Allah.S.W.T. ia yang berikan segalanya. Terimakasih ya Allah...

”Ibu......... kini aku tunjukkan nilai terbaikku yang aku bisa. Tak kurang dari nilai 29. bagiku, ini sangat membahagiakan Bu! Aku kan pernah bilang akan bawa nilai terbaikku untuk ibu baca dan ibu bangga sama aku. Dan aku tunggu ibu bilang ’anak ibu hebat..’ iya kan Bu???” aku bergumam dalam hati.

Usai mendapat nilai yang bagiku memuaskan (walau tak jadi juara sekolah), aku berfoto dan bergaya dengan baju seragam SMPku. Oh.. apakah saat ini bisa terulang kembali???

Aku lalu pulang. Dari kejauhan aku berlari untuk segera memamerkan nilaiku kepada ibu. ”Ibu.. aku dapat nilai bagus Bu! Janjiku telah aku penuhi. Aku akan buat ibu bangga Bu..” aku berteriak pertanda bahagia.

Dari kejauhan, terlihat rumahku ramai. Memangnya ada acara apa ya? Rasanya, tidak ada acara apa-apa deh.. tapi kenapa ya? Ada apa ya? Aku buru-buru menuju rumah. Dengan perasaan tak menentu.

Masuk ke dalam rumah, suasana haru menyelimuti. Jantungku berdebar. Sebenarnya ada apa? Ada apa? Aku mulai takut. Sesososok manusia berbalut kain putih diselimuti batik coklat terbujur kaku terdapat di dalam ruang keluargaku. Kak Fathia duduk di pojok ruangan sambil menangis. Aku bertanya ”Kak, ada apa?”

Kak Fathia diam dan tak bergeming.

”Kak! Jawab Kak.. ada apa?? Siapa itu Kak?” ”Kak... jawab!!!”

”Ris.. Kakak mohon, kamu tabah ya.. Kamu yang sabar ya..”

”Kenapa Kak? Kenapa? Ada apa?”

”Ibumu Ris.. Ibumu...”

”Ibu? Kenapa? Ibu kenapa????”

”Ibumu telah tiada. Ibumu pergi Kharis.. ibumu telah pergi menghadap yang kuasa..”

”Apa Kak? Ibu.. jadi, ini ibu? Ibuku kak?” sergahku tak percaya.

”Ibu.. ibu pergi? Ibu ngga boleh pergi!” aku menangis dan segera membuka kain yang dibaliknya terdapat sesosok manusia berbalut kain putih. ”Ibu.. ibu.. ini ibu?” wajah suciya masih terlihat bercahaya. Menutup ajal dengan tanda bersahaja. ”Ibu.....” aku berteriak. ”Ibu... ibu ngga boleh pergi. Ibu ngga boleh pergi! Ibu harus temenin aku Bu! Harus!! Ibu harus lihat semua nilai-nilaiku yang khusus aku persembahkan untuk ibu. Khusus untuk ibu. Ibu jangan pergi Bu!! Jangan!! Nanti aku sama siapa Bu?” Aku memeluk ibu dengan erat air mata bercucuran keluar dan menetes dari sudut mataku.

”Kharis.. Kharis.. Kakak mohon kamu yang tabah mengahdapi semua ini Ris..” Kak Fathia menarikku.

”Tapi Kak! Ibu harus lihat nilaiku yang bagus. Harus.. dan ibu harus bilang ’anak ibu hebat..’ harus Kak..aku mau semua itu terjadi..”

”Kharis.. tapi kamu harus terima kenyaataan. Ini semua sudah berakhir Kharis. Ibu sudah dipanggil sama Allah. Kamu tidak bolae begitu Kharis.” Kak Fathia membelaiku lembut lalu menghapus air mataku.

”Kenapa Kak? Kenapa harus secepat ini? Ibu adalah orang yang paling dekat denganku Kak.. Kenapa?”

”Kharis. Ini semua sudah menjadi kehendak Allah.. semua yang kita cintai tak selamanya akan ada disamping kita. Semua yang kita sayangi tak selamanya akan membelai kita. Bangkitlah Kharis.. bangkitlah.. kamu boleh bersedih.. tapi jangan sampai mengganggu jiwamu Kharis.. fikirkan dirimu.. tataplah hari esok saat kau memakai baju putih dan abu-abu.” Kak Fathia kembali menghiburku. Dalam dirinya, aku melihat sosok ibu yang bersahaja. Oh, ibu..

”Maafin aku Kak! Tadi aku ngga bisa mengendalikan diri. Aku terlalu shock. Sama seperti ayah dulu, aku tak tahu apa-apa tiba-tiba ayah telah tiada..”

”Kakak faham perasaanmu Kharis. Bersedihlah.. tapi jangan kau tangisi ibumu. Karena, ibumu tak ingin melihat kau menangis dan sedih berlama-lama.”

”Makasih Kak!”

Aku lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci diri dikamar. Dan kembali menangis. Ibu.. ibu.. apa yang terjadi hingga semua jadi begini?? Aku kembali menangis. Menangis.. meningat saat dimana aku dan ibu bercanda tawa.. saat dimana semua bahagia.. saat dimana rinduku terlaksana, saat aku melanggar janjiku yang tidak akan menyakiti ibu dan saat ibu terlihat bersahaja...

Kak Fathia mengetuk pintu kamarku ”Kharis.. Kakak masuk ya?”

Aku membukakan pintu dan lalu kembali menangis.

”Ris, jangan menangis lagi dong.”

”Maaf Kak! Aku ngga bisa untuk berhenti menangis.. aku terus teringat sama ibu.. aku coba tegar dan menerima, tetap tak bisa Kak.. aku sudah coba..” ujarku sambil terus terisak-isak.

”Ris, yang terpenting kamu jangan terus menyendiri di kamar. Bangkit.. hidupmu tak berakhir disini.”

”Iya, memang.. jalan hidupku masih panjang. Tapi, apakah itu dapat terlewati dengan lancar bila tak ada ibu?”

”Ris, Kakak tahu.. kakak mengerti kamu sangat sayang sama ibu kamu. Begitu pula Kakak! Kakak juga sangat sayang sama Bibi. Tapi semua sudah kehendak Allah Ris... apapun yang kita lakukan, jika sudah ditakdirkan oleh Allah, kita tidak dapat melawannya. Ajal jika telah menjemput, tidak akan bisa mengubahnya.”

”Kak.. aku salah ya?”

”Engga papa kok! Kamu hanya terlalu bersedih. Lebih baik sekarang kamu ganti baju lalu mendoakan ibu kamu. Memohon ampunan juga keberkahan-NYA untu ibu kamu. Sudah dong..”

”Iya Kak! Aku ngga juga mau ibu sedih karena aku terus menangis..”

Aku lalu ganti baju putih-biruku dengan baju kemeja hitam dan rok biru jeans berwarna kehitaman. Juga kerudungku yang berwarna hitam. Aku lalu duduk disamping ibu yang telah terbujur kaku.air mataku jatuh setetes, aku menghapusnya kembali menetes dan aku menghapusnya kembali..

Aku berdoa kepada Allah yang maha kuasa ”Ya Allah, aku hanyalah seorang hamba yang tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Tapi kau telah memberkan padaku segalanya. Sahabat yang baik hati, kakak yang pengertian, adik-adik yang selalu buatku tertawa, harta yang tiada habis-habisnya engkau berikan, nikmat dan kebahagiaan yang selalu tercurah untukku, juga seorang ibu yang sangat sayang padaku.. Ya Allah.. Tak pantas lagi aku meminta, tapi aku hanya minta satu hal lagi padamu

Ya Allah, berikanlah jalan yang baik bagiku, bagi semua orang yang kucintai termasuk ibuku. Ibuku yang telah engku panggil untuk mengahdapmu dan mendapatkan ganjaran dari setiap perbuatannya. Ya Allah, ampunilah dosa ibuku, ampuni setiap dosa yang telah ia lakukan. Maafkan kesalahan yang telah ia perbuat. Terimalah setiap amal baik yang telah ia lakukan. Terimlah.. Berkahilah.. sayangilah ibuku seperti ibuku menyayangiku dahulu.

Sesungguhnya hanya keberkahanmu Ya Allah yang bisa menjadikan semuanya jadi baik.. ampuni dosa-dosaku Ya Allah. Dosa terhadap ibuku juga semua yang telah aku sakiti. Hanya kepada-Mu lah aku memohon dan hanya kepada-Mu lah aku meminta..”

Aku memeluk ibu yang tak lama lagi akan dikebumikan. Kali ini aku memeluk ibu dengan penuh rasa rindu yang teramat. Mungkin ini saat terakhirku bisa memeluknya. Aku tak lagi menangis aku tersenyum bahagia melihat ibu pergi dengan indahnya . Dengan senyuman dibibirnya dan sedikit keringat di dahinya. Walau duka di hatiku teramat dalam, aku tak mau ibu bersedih melihatku.

Aku lalu mengecup kening ibu untuk yang terakhir kalinya. Kecupan tanda sayang dan cintaku pada ibu.. ketika kukecup keningnya, air mata menetes membasahi wajah ibu.. rinduku pada ibu akan lama..... sekali juga sangat......... dalam. Ya Allah, kuatkanlah diriku.

Orang-orang mengelilingi aku dan mendoakan agar ibu diampuni dosa-dosanya. Bacaan zikir-zikir juga terdengar jelas ditelingaku... mungkin kini aku mulai ikhlas melepas ibu.

Semenit kemudian Zena datang, aku segera berlari dan memeluknya. ”Zen, ibuku Zen! Ibuku..” aku meneteskan sedikit air mata.

”Iya Ris! Aku tahu.. aku tahu.. kamu anak yang kuat Ris! Kamu jangan sedih lagi dong! Hapus air matamu, aku tak ingin melihatmu menangis dan aku rasa ibumu juga demkian.” hibur Zena.

”Iya Zen.. aku tahu, akupun berusaha ikhlas.. semoga disana ibu lancar ya Zen, ngga terhalang oleh dosa-dosa yang aku buat.”

”Semoga saja Ris!”

”Zen, aku sekarang ngga punya siapa-siapa lagi. Ayah dan ibuku sudah tiada. Aku juga tak punya kakak ataupun adik..”

”Siapa bilang kamu tak punya siapa-siapa? Ada Kak Fathia, Kak Fandy, Ayu, Tata ucap dan Fariz. Apa itu masih kurang cukup Ris?”

”Aku tahu Zen! Tapi aku masih merasa kurang Zen!”

”Masih kurang? Aku punya orang-orang yang kamu rindukan, kakek juga nenekmu dari Aceh, mereka datang kesini. Kamu lupa kabarkan mereka kan?”

”Nenek? Kakek? Mereka datang kesini? Mereka sudah tua Zen, tidak mungkn! Aceh-Jakarta bukanlah tempat yang dekat.. lagipula, nenek dan kakekku tidak mau naik peawat..”

”Aku tidak bohong Kharis..”

Aku lalu keluar dan, Nenek juga Kakek bersama barang bawaannya telah menunggu didepan. ”Nenek.. Kakek...” aku berkata dengan suara pelan tak percaya dengan semerwutnya wajahku karena terlalu lama menangis.

”Kharis..” ucap mereka bersamaan.

Aku, nenek dan kakek lalu berpelukan. ”Aku punya keluarga lain.. walau tak seperti ayah dan ibu. Nenek.. kakek.. kenapa aku tak memberitahu mereka? Padahal ibu adalah anak kandung mereka..”

”Bagamana Nenek bisa kesini?” tanyaku.

”Nenek ingin melihat anak nenek untuk terakhir kalinya. Mengapa begitu cepat ya?” jawab nenekku.

”Kakek sama Nenek tahu dari siapa?”

”Dari Fathia..”

”Makasih Kak! Fikiranku buta.. aku jadi tak kabarkan ini pada yang lainnya. Maafkan aku Kak! Aku terlalu egois dan merasa ibu hanya milikku...”

”Ya, tak apa-apa. Kamu hanya perlu belajar lebih tegar.”

”Kak, Ibu dimakamkan habis Ashar Kak?”

”Iya Kharis. Kamu mau ikut?”

”Iya Kak! Aku ingin lihat ibu untuk terakhir kalinya.”

”Ya sudahlah, untuk terakhir kalinya..”

Azan Ashar menjelang, hatiku semakin berdebar, saat terahirku melihat ibu tiba. Aku sholat dan bersiap untuk melihat pemakaman ibu.. jenazah ibu disholatkan lalu dibawa ke TPU di dekat rumahku.

Lubang lahat telah di persiapkan tanpaku mengerti sama sekali. Semua telah diurus oleh Kak Fandy juga Kak Fathia. Jenazah ibu mulai dikeluarkan dari kerangka yang mengangkutnya dari masjid tadi. Disusul memasukkan jenazah ibu ke dalam lubang kuburnya.

Aku merinding.. rasanya aku tak kuat lagi. Tak sanggup lagi aku melihatnya.. aku juga tak percaya hal ini. Apakah ini benar-benar terjadi? Apa ini kenyataan? Aku melihat wajah ibu dari kejauhan yang akhirnya semakin jauh dan semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Dan....

”Aku dimana?” lirihku. Terlihat orang-orang terdekatku mengelilingiku.

”Kamu disini Ris?” jawab Kak Fathia.

”Dimana? Apa yang terjadi?”

”Di kamar kamu. Kamu ikngat kan Kharis?”

”Iya Kak..” aku teringat tentang ibu. ”Ibu.. dimana? Bagaimana ibu? Ibu.. ibu..”

“Tenanglah Kharis. Ibumu sudah dimakamkan. Kamu tenang saja. Tadi kamu pingsan Kharis..”

”Jadi, ibu sudah dimakamkan? Aku mau ke makam ibu sekarang!”

”Kharis, jangan buru-buru Ris! Kamu harus istirahat dahulu...”

”Kak, kenapa ibu bisa meninggal? Apa penyebabnya?”

”Ibu kamu sudah lama sakit Kharis.. sakit parah.”

”Sakit apa? Aku tak pernah tahu.”

”Sakit kanker. Ibumu terus bertahan dan bekerja demi kamu! Dua kali idul fitri tidak bersama ibu kamu karena kesehatan ibu kamu sedang drop dan tak kuat untuk ke Jakarta. Ibu kamu berpesan agar kamu tidak tahu.”

”Tapi kata ibu, ibu banyak pekerjaan yang tidak bisa ibu tinggalkan. Kakak jangan bohongin aku. Ibu ngga pernah sakit kan?”

”Kakak serius Kharis. Kakak tidak bohong..demi Allah Kharis!”

”Lalu ibu kenapa?”

”Beberapa hari ini, ibu kamu mengeluh tentang sakitnya. Ia juga sempat berkata tak kuat lagi bertahan. Kakak sangat sedih mendengar itu. Tadinya Kakak mau kasih tahu kamu. Tapi ibu kamu melarang keras. Dan, ia menitipkan sebuah surat untukmu.”

Kepada: Sabtu, 30 Juni 2007

Kharista sayang

Di tempat

Assalamualaikum.wr.wb

Kharista, anakku sayang. Satu hal yang ibu pengen kasih tahu ke kamu, ibu sayang... sekali sama kamu! Ibu cinta sama kamu sayang! Maaf bila ibu selama ini jauh dari kamu dan buat kamu kangen terus sama ibu. Tapi, ibu hanya ingin masa depan kamu baik Kharis,.. ibu ingin kamu jadi dokter, cita-cita ibu dahulu yang tidak tercapai. Semoga kamu bisa menjadi dokter sholehah yang juga pandai menulis buku-buku bermanfaat.. ibu doakan kamu selalu..

Maaf kalau ibu punya banyak kesalahan. Mau bagaimanapun, ibu tetap manusia biasa yang punya bebagai keslahan. Maafkan ibu ya Nak! Terimakasih untuk kamu yang selalu buat ibu bahagia dan selalu berjuang. Juga untuk kasih tulus cinta kamu ke ibu. Dan, untuk puisi kamu yang sangat bagus bagi ibu..

Wassalamualaikum.wr.wb

Salam sayang ibu selalu untuk kamu....

Kini, aku benar-benar menangis membaca surat terakhir ibu. Seharusnya aku yang minta maaf karena beberapa hari yang lalu aku sudah jahat sama ibu. ”IBU..” aku menangis sejadi-jadinya.

”Kenapa Kak? Kenapa? Kenapa ibu tak jujur padaku? ”

”Ia tak ingin kamu sedih. Ia juga tak ingin melihat kamu menangisinya. Kamu mengerti kan Kharis?”

” Ibu ngga mau kasih tahu aku karena ngga mau lihat aku sedih Kak? Berdosa aku Kak! Waktu itu aku sudah marah-marah sama ibu.. aku jahat.. aku ngga punya perasaan..” aku menangis.

“Ibu kamu tadinya mau ke dokter, tapi ia tunda karena ia tak mau bila kamu pulang ibu kamu tidak ada. Ia ingin lihat nilai kamu.. saat menunggu, ia tak kuat bertahan. Dan ketika Kakak ke kamar, ibu kamu sudah tiada. Maafkan Kakak ya Kharis..”

”Ini semua gara-gara aku! Aku yang salah.. aku yang buat ibu ngga jadi ke dokter.”

”Jangan menyalahkan diri sendiri Kharis.. semua sudah menjadi kehendak Allah Kharis.”

”Eh, Ris Kamu belum makan kan? Sekarang makan dulu..” Kak Fandy menyuruhku makan.

”Tapi Kak! Aku mau..”

”Ngga ada tapi-tapian, sekarang kamu makan dulu! Zena sudah makan?”

”Oh.. makasih, tapi aku sudah makan tadi Kak!

Akhirnya aku makan. Aku jadi ingat waktu aku makan ayam kecap buatan ibu tadi pagi. Kini, yang tersisa hanya ayam kecap buatan ibu. Ya Allah, aku kangen ibu!! Tapi aku harus tegar..

Sabtu, 30 Juni 2007

Dear diary,

Aku sedih... aku sedih... aku sedih.. sekali! Ibu meninggal! Ibu pergi! Aku sendirian. Baru saja aku rasakan nikmatnya menjadi seorang anak yang wajar yang tinggal bersama ibunya, ibu dipanggil oleh Allah. Ternyata, ibu sakit sudah sejak lama. Dan aku baru tahu sekarnag. Kenapa ibu ngga beritahu ke aku sejak awal? Tapi, aku harus ikhlaskan kepergian ibu. Ibu pergi dengan tenang dan harusnya aku senang. Tapi, hatiku masih gulita di penuhi rasa duka. Ya Allah.. terangilah jalanku. Bimbinglah aku untuk menyongsong hari esok. Dan, menjadi dokter yang pandai menulis. Semua aku persembahkan untuk ibu..

Esoknya, aku pergi ke makam ibu dengan membawa ijazah juga nilai-nilaiku. Aku ingin ibu tahu bahwa aku berjuang mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku berjalan sendirian. Disana, aku mengungkapkan pada ibu semua yang ku rasakan saat ini.

”Bu, aku mau kasih liat semua ini kemarin. Tapi ternyata, ibu sudah pergi. Padahal, aku masih pengen denger ibu bilang ’anak ibu hebat ya..’” aku menghela nafas. ”Ibu sudah dipanggil sama Allah. Aku harus ikhlas menerima semua ini. Aku harus sabar walau terkadang aku ngga bisa mengendalikan diri kalau sudah sedih. Maafin aku ya Bu! Maafin aku atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada ibu!

Kesalah pahaman beberapa hari yang lalu. Semuanya aku minta maaf. Dari lubuk hatiku yang terdalam. Terimakasih atas semua yang telah ibu berikan ke aku. Atas uang dari hasil jerih payah ibu untukku, atas kasih sayang dan cinta dari setiap kecupan dan pelukan ibu, atas pengorbanan ibu yang begitu besar, atas segalanya hingga aku seperti ini.

Andai, ibu masih ada, aku ingin balas setiap yang ibu berikan untukku. Tapi, aku hanya bisa buat ibu bahagia dari sini saja. Aku mau buat ibu bahagia dengan mewujudkan cita-citaku jadi dokter yang pandai menulis juga bermanfaat bagi orang banyak. Sekarang, ibu lihat nilaiku Bu! UN aku dapat 29. aku bisa masuk SMU 58. SMU favorit yang belum tentu semua orang bisa masuk kesana.

Bu, rasa sedih sangat dalam di hatiku. Tapi Kak Fathia bilang ibu ngga mau lihat aku sedih. Akupun ngga mau buat ibu sedih karena aku sedih. Aku mau buat ibu bahagia karena lihat aku bahagia. Aku tahu itu akupun mengerti semua itu. Bu, walau kita sudah ngga bersama lagi, aku akan selalu mencintai dan menyimpan ibu seperti puisiku waktu itu. Aku bodoh ya? Aku bicara sama ibu yang sekarang sudah di dalam alam kubur. Tapi, aku hanya ingin ibu mengerti bahwa aku sangat mencintai ibu. Akupun rindu sama ibu..

Bu, sudah dulu ya! Sudah cukup aku menjadi orang bodoh yang bicara pada ibu yang sudah tiada. Kapan-kapan lagi aku akan kembali kesini Bu..” aku lalu membacakan doa-doa serta zikir agar ibu bahagia dan diberi ampun oleh Allah.

**** **** ****

Tiga tahun berlalu sejak kepergian ibu. Kini, aku sudah lulus SMU. Bersama Zena aku masuk ke Universitas Indonesia jurusan kedokteran. Aku bersyukur, nilaiku bagus dan diterima di Universitas Indonesia. Aku mendapatkan beasiswa dari sebuah Yayasan yang dikelola oleh teman Kak Fathia yang kini sudah mendapat gelar S1 dibidang hukum. Aku bahagia.. sekali. Impianku terwujud. Aku akan berusaha mendapatkan gelar dokter juga dengan nilai yang memuaskan. Ku persembahkan hanya untuk ibu..

Jum’at 28 Maret 2008

Pukul 15.05


Tidak ada komentar:

Posting Komentar