Di Johar Baru, Malaysia
Assalamu’aliakum Wr. Wb.
Sahabatku.
Aku, Nur Hayati Ramadhina. Siti masih ingatkan? Waktu itu kita bertemu pada acara Pameran Kebudayaan yang diadakan ASEAN tahun lalu. Pertemuan itu sangatlah berkesan bagiku. Di situlah aku mulai mengetahui sedikit tentang negarimu. Kita bertukar informasi tentang keadaan di negeri kita masing-masing. Pada saat itu aku berjanji untuk menceritakan lebih banyak tentang suku di Indonesia. Termasuk tentang Suku Betawi, suku asli kotaku, Jakarta. Namun sayang, waktu itu aku tidak dapat bercerita lebih banyak.
Sahabatku.
Bagi orang tuaku, aku adalah anugerah. Aku adalah satu-satunya anak perempuan di antara kelima kakakku yang semuanya laki-laki. Menurut orang tuaku kehadiranku amat ditunggu. Setelah lima kali melahirkan dan berharap mendapatkan anak perempuan, akupun lahir dengan keadaan sempurna. Aku juga heran mengapa kedua orang tuaku mengharapkan kehadiranku. Bukankah biasanya orang tua berharap mempunyai anak laki-laki, bukan perempuan. Entahlah, enyak (panggilan untuk ibu) dan babeku (panggilan untuk ayah) memang terkadang aneh. Karena kehadiranku amat ditunggu, mereka memikirkan dengan matang nama apa yang cocok untukku. Jadilah namaku sekarang, Nur Hayati Ramadhani. Nur artinya cahaya. Hayati artinya kehidupan. Dan kata Ramadhani berasal dari bulan Ramadhan, bulan kelahiranku 12 tahun silam. Aku bersyukur orang tuaku memberi namaku sedemikian rupa. Terimakasih enyak.. Terimakasih babe..
Sahabatku.
Enyak dan babeku orang betawi asli. Aku banyak tahu tentang perkembangan masyarakat Betawi. Tahun 1930, orang betawi sebelumnya tidak pernah ada lalu muncul dalam sensus penduduk sebagai mayoritas penduduk batavia waktu itu. Kata babe, dahulu orang betawi lebih sering menyebut diri berdasarkan daerah tempat tinggal mereka masing-masing. Kesadaran bahwa mereka adalah satu golongan, baru muncul pada saat M. Husni Thamrin membentuk Perokempoelan Kaoem Betawi. Jadi, secara biologis mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan dari beberapa etnis dan bangsa di masa lalu.
Sahabatku.
Di Betawi, banyak sekali kesenian. Kesenian dalam sukuku adalah percampuran dari berbagai suku yang ada. Misalnya kesenian Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongha, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.
Sahabatku
Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Diantara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa.
Kalau aku sudah pasti menganut agama Islam. Aku kan orang Betawi asli.. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat walau berbeda agama kami orang Betawi tetap menjaga persatuan dan kesatuan sehingga tercipta kehidupan yang damai dan tentram.
Walaupun begitu, masyarakat Betawi sangat kental dengan kepercayaan-kepercayaan nenek moyang terdahulu. Masyarakat Betawi sangat percaya dengat adat istiadat seperti nujuh bulan acara tahlil untuk orang yang hamil tujuh bulan. Nujuh hari acara Tahlil untuk tujuh hari orang meninggal. Nisfu Sya’ban dengan Tahlil di tengah-tengah bulan Sya’ban. Dan yang biasanya paling ramai diadakan adalah Maulid Nabi yang acaranya biasa menghabiskan banyak uang. Tetapi masyarakat senang karena mendapatkan sembako. Sebenarnya masih banyak kepercayaan-kepercayaan lain masyarakat Betawi.
Sahabatku.
Aku tinggal di daerah kampung Betawi, Pulo Kalibata. Salah satu daerah yang masih kental dengan adat dan berbagai kebudayaan. Profesi yang rata-rata ditekuni warga adalah konveksi yang diwariskan turun temurun oleh orang tua kepada anak-anaknya. Kakekku yang biasa aku panggil engkong, seorang pengusaha konveksi yang cukup sukses. Engkong mempunyai tanah yang luas dan rumah kontrakan. Namun sayang usaha konveksi itu kini sudah tak seperti dulu, sebelum usaha konveksi itu di turunkan kepada Uwakku (panggilan untuk paman), usaha konveksi engkongku terkena tipu. Tetepi kini keadaannya mulai membaik. Kita doakan saja agar usahanya terus maju. Amien. Sementara, babeku kurang berminat menjadi pengusaha konveksi. Babe lebih memilih menjadi seorang guru sejarah di Madrasah Aliyah dekat rumahku. Dari Babe, Aku banyak tahu tetang kampungku.
Sahabatku.
Orang Betawi sejak dulu, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Misalnya di kampung Kemanggisan, Jakarta Barat dan sekitar Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Secara umum mereka juga banyak menjadi guru. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh warga Betawi. Petani, juga umum dilakoni warga Kemanggisan.
Kampung Kemandoran, Jakarta Barat, tanahnya tergolong tidak sesubur kampung Kemanggisan. Di kampung ini warga banyak beprofesi sebagai Mandor yang jago silat dan perternak bek. Sedang di kampung Paseban, Jakarta Pusat, banyak warga sebagai pekerja kantoran sejak jaman Belanda, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Selain itu, mereka juga berprofesi sebgai guru, ustadz, termasuk profesi sebagai pedagang.
Karena asal etnis orang Betawi adalah multikultur (Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
Sahabat, banyak orang menganggap bahwa masyarakat Betawi, sukuku, jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Misalnya Muhammad Husni Thamrin, Benyamin S, hingga Gubernur Jakarta sekelas Ali Sadikin. Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius.
Orang betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Orang-orang Betawi sangat menghargai keanekaragaman. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta. Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti, ada banyak warga masih memainkan kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat betawi masa kini agak terpinggirkan. Namun tetap ada harapan dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.
Sahabatku.
O, ya. Suatu hari, aku pernah ikut kakak ketigaku berenang di kolam dekat rumah. Kebetulan itu adalah empang engkongku yang cukup dalam dan luas. Aku sangat senang diajak kakakku yang biasa aku panggil Bang Amin, umurnya berpaut lima tahun denganku. Ia baru saja lulus dari SMA. Abangku yang satu ini memang sangat baik dan perhatian dengan ku. Ia sering mengajakku ke tempat yang seru dan mengasyikkan.
Ketika sampai di empang Engkongku, aku langsung menceburkan diri ke dalam empang dengan pakaian seadanya. Hanya kaus lengan pendek ditambah dengan celana pendek selutut. Dalam empang itu kira-kira dua meter. Dan luasnya kira-kira 10 x 10 m. Ini adalah yang ketiga kalinya aku berenang di empang engkongku. Waktu pertama kali aku diajak kakakku untuk berenang, aku ragu untuk ikut menceburkan diri ke dalam empang. Karena mungkin banyak lumpur dan empangnya yang aku bilang termasuk dalam. Tetapi kakakku dengan sabar mengajariku dan meyakinkanku bahwa berenang itu mengasyikkan. Akhirnya aku bisa berenang, walau sedikit-sedikit. He.. he..
Baru beberapa saat aku dan Bang Amin berenang, kakak keempatku yang biasa dipanggil Bang Aan muncul bersama teman-temannya. Ternyata mereka juga ingin ikut bergabung berenang bersama kami. ”Pasti tambah seru nih.” gumamku di dalam hati. Kamipun berenang dengan gaya kami masing-masing. Bang Arif teman Bang Aan mengajak kami memperlihatkan kebolehan berenang kami masing-masing. Dimulai dari Bang Arif yang mengajaknya. Ia bernang dengan merebahkan badan. Aku fikir pasti ia akan menunjukkan gaya dada. Aku tertawa kecil di dalam hati. Dan benar, ia berenang dengan gaya dada. Tetapi tidak hanya itu saja, selain berenang ia juga sambil melemparkan tiga bola secara bergiliran bak akrobatik. Kami semua lalu bertepuk tangan. Bang Arif ternyata hebat ya..
Setelah itu pertunjukkan dilanjutkan oleh Bang Aan, kakakku. Ia memang selalu ingin dipandang orang hebat. Jadi ia selalu berusaha menunjukkan kemampuan yang ia kuasai. Bagus sih, tetapi aku tahu ia tidak terlalu bisa berenang. Entahlah apa yang akan ia lakukan. Kita lihat saja. Mula-mula Bang Aan berlari darri ujung empang dan ia menceburkan diri dengan melompati Batu yang telah ia letakkan di pinggir kolam. Ia dengan sempurna melompati batu dan masuk ke dalam empang. Awalnya aku bangga karena kakakku bisa melompat dengan indah tetapi ternyata, setelah masuk ke dalam empang Bang Aan tidak dapat menguasai diri dan ia tenggelam. Aku langsung berteriak ”Bang Aan!!” Bang Amin langsung melompat dan menyelamatkan Bang Aan. Bang Aan langsung dibopong ke rumah engkongku.
”Masya Allah. Amin, ngape Aan bisa jadi sampe kayak begini?” Nenekku panik kebingungan. ”Ya, Amin juga kagak tau Nyai! Amin lagi maen ama Aan. Terus die ngelompat dari atas ke empang tenggelem deh die.” Jawab Bang Amin. Aku berharap-harap cemas. Bang Arif yang mengajak untuk menunjukkan kehebatan berenang merasa bersalah dan langsung memberi tahu Enyak dan Babeku. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Bang Aan. Nenekku lalu menggosokkan minyak angin di hidung Bang Aan.
Alhamdulillah setelah enyak dan babeku datang, Bang Aan sadar. Dan ia hanya cengar-cengir ketika semua orang menanyakan keadaannya. Bang Aan.. Bang Aan.. tidak berubah kebiasaannya, ’ingin terlihat baik di depan semua orang.’
Sahabatku.
Selain berenang aku juga paling senang bermain Bentengan. Permainan bentengan adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing - masing terdiri dari emapt sampai delapan orang. Masing - masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai ‘benteng’.
Cara bermainnyapun tidak sulit. Pertama, kita harus mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya. Lalu dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok harus mempunyai ketua kelompok. Selain itu masing-masing kelompok harus mencari bentengnya masing-masing. Boleh, pohon, tiang, pagar atau apapun yang kira-kira dapat dijadikan sebagai benteng. Setelah itu ketua kelompok lalu suit tiga kali. Dan kelompok yang menang harus merebut benteng lawan. Anggota-anggota kelompok harus maju satu per satu unntuk memencing anak buah lawan keluar dari bentengnya. Dan yang memancing tidak boleh sampai terpegang oleh lawan. Kalau terpegang, ia jadi tahanan dan tidak boleh kembali ke benteng sendiri. Teman satu kelompok harus berusaha menyelamatkan temannya yang menjadi tawanan dengan cara memegang teman yang ditahan. Dan jika lawan mengejar, harus lari secepat mungkin agar tidak menjadi tawanan. Sebisa mungkin mendekati benteng lawan dan kalau sudah dekat, pegang bentengnya dan berteriak ”BENTENG”. Dan kalau sudah begitu tandanya benteng sudah berhasil kita rebut. Da para tahanan, otomatis bebas semua. Dan yang bisa merebut benteng paling bayak ialah pemenangnya. Lumayan seru bukan?
Setiap hari Minggu pagi, aku biasanya bermain bentengan bersama teman-teman sekolahku yang kebetulan rumahnya berdekatan denganku. Permainan biasanya berlangsung dengan seru dan menegangkan. Dan biasanya pada akhirnya, kelompokku yang menang. Menurut teman-teman, aku paling hebat bermain bentengan. Karena aku berlari paling cepat. Dipuji begitu, aku jadi besar kepala. He.. he..
Sahabatku.
Kali ini aku diajak Bang Iki, kakak sepupuku yang kini baru duduk di bangku SMP bermain Anggar. Agar semakin seru, aku mengajak dua teman laki-lakiku untuk bergabung bermain anggar, Reza dan Agung. Bang Iki mengambil pisau di dapur. Dan kami pergi ke kebun belakang untuk mecari pelepah pisang. Bang Iki mulai membuat anggar-anggaran. Bang Iki membuang daun pisang dari pelepahnya. Setelah itu Bang Iki memotong pelepah pisang kira-kira sepanjang satu meter. Kemudian, ia membuat irisan sebanyak dua buah. Jarak antara irisan kira-kira sepuluh sentimeter. Selanjutnya, pelepah pisang itu ditekuk tepat pada irisan tadi. Kemudian, ujung tekukan diikat dengan tali agar tekukan tidak mudah terlepas. Tekukan itu akan membentuk segitiga. Dan bentuk itulah yang dijadikan sebagai pegangan. Setelah memperhatikan cara membuat anggar, akupun mencoba mencontohnya. Alhamdulillah aku berhasil membuat anggar-anggaran.
”Bang Iki, cara mainnye gimane?” Tanya Reza. “Begini loh,” Bang Iki mulai menjelaskan. “Aya aja yang ngejelasin Bang!” aku menyerobot Bang Iki dan mulai menjelaskan “Semua pemaen, berusahe menyerang lawannye. Caranye dengan ngarahin anggar ke badan lawan. Bagian nyang boleh diserang yaitu bahu ampe kaki. Pemaen nyang berhasil ngenain badan lawan paling banyak, die nyang menang. Gimane? Dah ngerti belon?” “Ooh..” Reza dan Agung mulai mengerti.
Kami lalu mulai bermain anggar-anggaran. Permainan berlangsung seru. Tapi sayangnya aku kalah. Tapi tidak apa-apa. Kitakan harus belajar untuk sportif dalam permainan. Iya
Sahabatku.
Selain permainan benteng dan anggar-anggaran seperti di atas. Masih banyak berbagai macam permainan dari Betawi. Aku bangga, akupun senang. Aku bahagia bisa berbagi cerita dengan kamu. Semoga suratku ini punya manfaat untuk kamu. Dan di lain waktu aku ingin berbagi cerita lagi bersama kamu. Akhir kata, aku mengucapkan sampai jumpa lagi dan senang dapat berbagi cerita denganmu.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Sahabatmu,
Nur Hayati Ramadhani
****
Aku membaca salinan surat perdanaku, 18 tahun silam. Saat aku sedang gemar-gemarnya melakukan surat-menyurat dengan sahabat penaku yang berada di Malaysia. Tepatnya ia berada di Johar Baru. Aku mamanggilnya Siti. Aku dan dia sering sekali berbagi cerita tentang kebudayaan, kepercayaan, keluarga, teman dan berbagai peristiwa dalam hidupku di masa lalu. Tanpa terasa air mataku menetes. Aku rindu saat itu. Aku rindu akan masa kecilku yang begitu indah rasanya.
Aku kini sudah menikah dan mepunyai satu anak. Dan, aku tinggal di Malaysia, negara sahabat penaku dulu. Suamiku bekerja sebagai duta Indonesia untuk Malaysia. Selain itu, kini aku juga bekerja di kantor ASEAN Malaysia. Dan aku bahagia bekerja di ASEAN. Walau baru bekerja beberapa bulan, aku mendapatkan banyak pengetahuan-pengetahuan tentang negari asalku, Indonesia yang sebelumnya belum aku ketahui.
Aku tak menyangka kini aku bisa tinggal di tempat sahabat yang kuanggap sangat dekat denganku namun tak pernah bertemu. Aku berharap bisa bertemu dengannya walau hanya sekali. Ya Allah, aku ingin bertemu sahabatku ya Allah. Amien.